PENGARUH KUATNYA INTERAKSI TERHADAP PRESTASI SISWA
MAKALAH
(Disusun untuk memenuhi tugas akhir Bahasa Indonesia)
OLEH
S U P A R T O M O
211 408 294
PRODI PENDIDIKAN AKUNTANSI
JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2009
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena dengan rahmat, karunia, dan izin-Nyalah sehingga penyusunan makalah dengan judul “PENGARUH KUATNYA INTERAKSI TERHADAP PRESTASI SISWA” dapat penyusun selesaikan tepat pada waktunya meskipun terdapat banyak kesulitan dan hambatan namun, hal-hal tersebut tidak membuat penyusun pesimis untuk terus berusaha.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan karena pada hakekatnya manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat jauh dari kesempurnaan. Berdasarkan hal itu, tidak heran ketika panca indera penulispun memiliki keterbatasan dalam hal fungsi. Dengan menyadari hal itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi mendekatkan diri dengan kesempurnaan penulisan makalah-makalah berikutnya.
Penuh kerendahan hati, penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan penulisan makalah ini, karena tanpa bantuannya akan sangat pasti penulis mendapatkan masalah yang lebih rumit dan menghambat kelancaran penulisan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan mendapat Berkah dan Rahmat dari Allah SWT serta merupakan ibadah yang bermanfaat fiddin wal akhirah.
Gorontalo, Juni 2009
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Permasalahan
1.3 Tujuan Penyusunan Makalah
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Evaluasi
2.2 Fungsi Motivasi Dalam Belajar
2.3 Macam-Macam Motivasi
2.4 Bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi
2.5 Beberapa Teori yang Berhubungan Dengan Motivasi
2.6 Pengaruh Motivasi Terhadap Pencapaian Tujuan
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses belajar-mengajar dapat dipahami atau dijelaskan dengan menggunakan berbagai teori belajar. Di samping itu proses tersebut dapat pula dijelaskan dengan memperhatikan satu aspek yang penting, yaitu motivasi siswa.
Di dalam proses belajar-mengajar, dosen terkadang dirisaukan dengan adanya mahasiswa yang dinilai cerdas tetapi mempunyai prestasi yang sedang-sedang saja. Dalam interaksi di kelas dia kelihatan bosan dan lesu, sedikit sekali menggunakan pikirannya untuk memecahkan persoalan yang dikemukakan di kelas, apalagi secara aktif melibatkan diri dalam proses belajar-mengajar,
Gejala seperti ini sering terjadi. Salah satu cara memahaminya dengan analisis yang dikemukakan oleh Romiszowski (1984), bahwa kinerja atau performance yang rendah dapat disebabkan oleh berbagai factor yang berasal dari dalam dan luar mahasiswa.
Berikut dapat memperjelas yang dimaksud.
a. Belum menguasai pengetahuan/keterampilan.
b. Sifat atau struktur tugas yang sulit atau tidak menyenangkan.
c. Konsekwensi negative pelaksanaan suatu tugas.
d. Jarang berlatih menggunakan keterampilan tersebut.
Berdasarkan point-point di atas, seorang mahasiswa yang berprestasi rendah kemungkinan disebabkan :
1. Tidak dapat melakukan tugas (belajar), karena tidak mempunyai atau menguasai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan. (point a)
2. Tidak “mau” melakukan tugas tertentu, meskipun sebenarnya mempunyai kemampuan yang diperlukan. Hal ini disebabkan berbagai faktor, seperti topic yang tidak menarik, cara mengajar dosen yang idak jelas, atau karena khawatir dengan konsekwensi yang harus ditanggung apabila mengalami kegagalan. (point b.c.dan d)
Keberhasilan mahasiswa dipengaruhi oleh banyak faktor yang berasal dari dalam dan luar mahasiswa. Faktor luar misalnya fasilitas belajar, cara mengajar dosen, system pemberian umpan balik dan sebagainya. Faktor-faktor dari dalam mahasiswa mencakup kecerdasan, strategi belajar, motivasi dan sebagainya.
Melihat motivasi merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam mencari dan menambah kecerdasan mahasiswa maka motivasi akan dibahas seperlunya dalam makalah ini.
1.2 Permasalahan
Berdasarkan beberapa permasalahan, penyusun mengangkat materi mengenai motivasi dalam belajar, diantaranya :
Pengertian motivasi
Fungsi motivasi dalam belajar
Macam-macam motivasi
Bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi
Beberapa teori yang berhubungan dengan motivasi
Pengaruh motivasi terhadap pencapaian tujuan atau prestasi
1.3 Manfaat Penyusunan Makalah
• Untuk mengetahui apa pengertian motivasi
• Untuk mengetahui fungsi motivasi dalam belajar
• Untuk mengetahui macam-macam motivasi
• Untuk mengetahui bagaimana bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi
• Untuk mengetahui teori yang berhubungan dengan motives
• Untuk mengetahui apa pengaruh motivasi terhadap pencapaian tujuan atau prestasi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Motivasi
Istilah motivasi berasal dari bahasa Latin “movere” yang berarti “menggerakkan”. Berdasarkan pengertian ini makna motivasi menjadi berkembang. Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut.
Sedangkan Ames (1984) menjelaskan motivasi dari pandangan lain bahwa menurutnya, motivasi didefinisikan sebagai perspektif yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri dan lingkungannya.
Motivasi juga dapat dijelaskan sebagai “tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu” (Cropley, 1985). Dalam pengertian ini mahasiswa akan berusaha mencapai suatu tujuan karena dirangsang oleh manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh.
Dalam proses belajar motivasi mahasiswa tercermin melalui ketekunan yang tidak mudah patah untuk mencapai sukses, meskipun dihadang banyak kesulitan. Motivasi juga ditunjukkan melalui intensitas untuk kerja dalam melakukan suatu tugas.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Dikatakan “keseluruhan”, karena pada umumnya ada beberapa motif yang bersama-sama menggerakkan siswa untuk belajar. Motivasi belajar adalah faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi yang kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Ibaratnya seseorang itu menghadiri suatu ceramah, tetapi karena ia tidak tertarik pada materi yang diceramahkan, maka ia tidak akan mencamkan, apalagi mencatat isi ceramah tersebut. Seseorang tidak memiliki motivasi kecuali karena paksaan atau sekedar seremonial. Seorang siswa yang memiliki intelegensia cukup tinggi, boleh jadi gagal karena kekurangan motivasi. Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi yang tepat. Bergayat dengan ini maka kegagalan belajar siswa jangan begitu saja menyalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberi motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan kegiatan siswa untuk berbuat atau belajar. Jadi tugas guru, bagaimana mendorong para siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi.
2.2 Fungsi Motivasi Dalam Belajar
Serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu sebenarnya dilatarbelakangi oleh sesuatu atau yang secara umum dinamakan motivasi. Motivasi inilah yang mendorong mengapa mereka itu melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan.
Begitu juga untuk belajar sangat diperlukan adanya motivasi guna melahirkan dan mempertahankan semangat untuk belajar. “Motivation is an essential condition of learning”, hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi, motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa atau mahasiswa.
Perlu ditegaskan, bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan yang akan dicapai. Dengan demikian motivasi itu mempengaruhi adanya kegiatan.
Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi :
Mendorong manusia untuk berbuat
Jadi, motivasi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
Menentukan arah perbuatan
Artinya, motivasi mengarahkan ke mana tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan.
Menyeleksi perbuatan
Yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan dan serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.
Di samping tiga fungsi di atas, ada fungsi-fungsi lain. Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan pretasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
2.3 Macam-Macam Motivasi
Berbicara tentang macam atau jenis motivasi ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, motivasi atau motif-moif yang aktif itu sangat bervariasi.
1. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
a. Motif-motif bawaan
Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Sebagai contoh misalnya : dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan untuk bekerja, untuk beristirahat, dorongan seksual. Motif-motif ini sering kali disebut motif-motif yang disyaratkan secara biologis. Relevan dengan ini, maka Arden N. Frandsen memberi istilah jenis motif physiological drives.
b. Motif-motif yang dipelajari
Maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh : dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu di dalam masyarakat. Motif-motif ini sering kali disebut dengan motif-motif yang disyaratkan secara sosial. Sebab manusia hidup dalam lingkungan sosial dengan sesama manusia yang lain, sehingga motivasi itu terbentuk. Frandsen mengistilahkan dengan affiliative needs. Sebab justru dengan kemampuan berhubungan, kerja sama di dalam masyarakat tercapailah suatu kepuasan diri. Sehingga manusia perlu mengembangkan sifat-sifat ramah, kooperatif, membina hubungan baik dengan sesame, apalagi orang tua dan guru. Dalam kegiatan belajar-mengajar, hal ini dapat membantu dalam usaha mencapai prestasi.
Di samping itu Frandsen, masih menambahkan jenis-jenis motif sebagai berikut :
a. Cognitive Motives
Motif ini menunjuk pada gejala intrinsic, yakni menyangkut kepuasan individual. Kepuasan individual yang berada di dalam diri manusia dan biasanya berwujud proses dan produk mental. Jenis motif seperti ini adalah sangat primer dalam kegiatan belajar di sekolah, terutama yang berkaitan dengan pengembangan intelektual.
b. Self expression
Penampilan diri adalah sebagian dari perilaku manusia. yang penting kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi juga mampu membuat suatu kejadian. Untuk ini memang diperlukan kreativitas, penuh imajinasi, jadi dalam hal ini seseorang memiliki keinginan untuk aktualisasi diri.
c. Self enhancement
Melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang. Ketinggian dan kemajuan diri ini menjadi salah satu keinginan bagi setiap individu. Dalam belajar dapat diciptakan suasana kompetensi yang sehat bagi anak didik untuk mencapai suatu prestasi.
2. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis
a. Motif atau kebutuhan organis
Meliputi misalnya, kebutuhan untuk minum, makan, bernafas, seksual, berbuat, dan kebutuhan untuk beristirahat. Ini sesuai dengan jenis physiological drives dari Frandsen.
b. Motif-motif darurat
Yang termasuk dalam jenis ini antara lain : dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu. Jelasnya motivasi jenis ini timbul karena rangsangan dari luar.
c. Motif-motif objektif
Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motif-motif ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.
3. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis yakni motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah. Yang termasuk motivasi jasmaniah seperti misalnya : refleks, insting otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rohaniah adalah kemauan.
Soal kemauan itu pada setiap diri manusia terbentuk melalui empat momen.
a. Momen timbulnya alasan.
Sebagai contoh seorang pemuda giat berlatih olahraga untuk menghadapi suatu porseni di sekolahnya, tetapi disuruh ibunya untuk mengantarkan seorang tamu membeli tiket karena tamu itu mau kembali ke Jakarta. Si pemuda itu kemudian mengantarkan tamu tersebut. Dalam hal ini pemuda tadi timbul alasan baru untuk melakukan suatu kegiatan (kegiatan mengantar). Alasan baru itu bisa karena untuk menghormat tamu atau mungkin keinginan untuk tidak mengecewakan ibunya.
b. Momen pilih.
Momen pilih, maksudnya dalam keadaan pada waktu ada alternatif-alternatif yang mengakibatkan persaingan antara di antara alternatif atau alasan-alasan itu. Kemudian seorang menimbang-nimbang dari berbagai alternatif untuk kemudian menetukan pilihan alternatif yang akan dikerjakan.
c. Momen putusan.
Dalam persaingan antara berbagai alasan, sudah barang tentu berakhir dengan dipilihnya satu alternative. Satu alternatif yang dipilih inilah yang menjadi putusan untuk dikerjakan.
d. Momen terbentuknya kemauan.
Kalau seseorang sudah menetapkan satu putusan untuk dikerjakan, timbullah dorongan pada diri seseorang untuk bertindak dan melaksanakan putusan itu.
4. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
a. Motif intrinsik
Yang dimaksud dengan motif intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca, tidak perlu ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Kemudian kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya (misalnya kegiatan belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri. Sebagai contoh konkret seorang siswa itu belajar, karena betul-betul ingin mendapat pengetahuan, nilai atau keterampilan agar dapat berubah tingkah lakunya secara konstrukif, tidak karena tujuan yang lain-lain. Intrinsic motivations are interent in the learnig situations and meet pupil-needs and purposes.
Itulah sebabnya motivasi intrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri dan secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya. Seperti tadi dicontohkan bahwa seseorang belajar, memang benar-benar ingin mengetahui segala sesuatunya, bukan karena ingin pujian atau ganjaran.
Perlu diketahui bahwa siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu. Satu-satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang ingin dicapai ialah belajar, tanpa belajar tidak mungkin mendapat pengetahuan, tidak mungkin menjadi ahli. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan, kebutuhan yang berisikan keharsuan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar symbol dan seremonial.
b. Motif ekstrinsik
Motif ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya akan diadakan ujian, dengan harapan mendapatkan nilai baik, atau agar mendapat hadiah. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bergayut dengan esensi apa yang dilakukannya itu. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya akivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang secara mutlak berkait dengan aktivitas belajar.
Perlu ditegaskan, bukan berarti bahwa motivasi ekstrinsik ini tidak baik dan tidak penting. dalam kegiatan belajar-mengajar motivasi ini tetap penting dan diperlukan. Sebab kemungkinan besar keaadan siswa itu dinamis, berubah-ubah, dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik sebagai pendorong yang mendukung motivasi intrinsic yang melemah.
2.4 Bentuk dan Cara Menumbuhkan Motivasi
Di dalam kegiatan belajar –mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar.
Dalam hal ini perlu diketahui bahwa cara dan jenis menumbuhkan motivasi ada bermacam-macam. Tetapi untuk motivasi ekstrinsik kadang-kadang tepat dan kadang-kadang juga bisa kurang sesuai. Hal ini guru atau dosen hati-hati dalam menumbuhkan dan memberi motivasi bagi kegiatan belajar para anak didik. Sebab mungkin maksudnya memberikan motivasi tetapi justru tidak menguntungkan bagi perkembangan belajar siswa.
Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah.
1. Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai symbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar, yang utama justru untuk mencapai angka atau nilai yang baik. Sehingga siswa biasanya yang dikejar adalah nilai ulangan atau nilai-nilai yang baik pada raport.
Angka-angka yang baik itu bagi para siswa atau mahasiswa merupakan motivasi yang sangat kuat. Tetapi ada juga, bahkan banyak siswa bekerja atau belajar hanya ingin mengejar kenaikan kelas, naik kelas adalah hasil yang memuaskan meskipun nilai-nilainya sangat standar. Hal ini menunjukkan moitvasi yang dimilikinya kurang berbobot bila dibandingkan dengan siswa-siswa yang menginginkan angka yang baik. Namun demikian semua itu harus diingat oleh guru atau dosen bahwa pencapaian angka-angka seperti itu belum merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang bermakna. Oleh karena itu, langkah selanjutnya yang ditempuh oleh guru atau dosen adalah bagaimana cara memberikan angka-angka sehingga dapat dikaitkan dengan values yang terkandung di dalam setiap pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa sehingga tidak sekedar kognitif tetapi juga keterampilan dan afeksinya.
2. Hadiah
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi tetapi taklah selalu demikian. Karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak mungkin senang dan tidak berbakat untuk suatu pekerjaan. Sebagai contoh hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi seorang siswa yang tidak memiliki bakat menggambar.
3. Saingan atau kompetisi
Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individual maupun kelompok dapat meningkatkan pretsasi belajar siswa. Memang unsur persaingan ini banyak dimanfaatkan di dalam dunia industri atau perdangangan, tetapi juga sangat baik digunakan untuk menigkatkan kegiatan belajar siswa.
4. Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah symbol kebanggaan dan harga diri, begitu juga untuk siswa sebagai subjek belajar. Para siswa akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.
5. Memberi ulangan
Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu,, memberi ulangan itu juga merupakan sarana motivasi. Tetapi harus diingat oleh guru atau dosen, adalah jangan terlalu sering (misalnya setiap hari) karena bisa membosankan. Dalam hal ini guru harus juga terbuka, maksudnya kalau akan diadakan ulangan harus diberitahukan kepada siswanya.
6. Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.
7. Pujian
Apabila ada siswa yang sukses dan berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, maka perlu diberikan pujian. Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu, supaya pujian ini merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenagkan dan mempertinggi gairah belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.
8. Hukuman
Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.
9. Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik, bila dibandingkan segala kegiatan yang tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.
10. Minat
Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar itu akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Mengenai minat ini antara lain dapat dibangkitkan dengan cara sebagai berikut :
a. Membangkitkan adanya suatu kebutuhan
b. Menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau
c. Memberi kesan untuk mendapatkan hasil yang baik
d. Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar
11. Tujuan yang diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasakan sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.
Di samping bentuk-bentuk motivasi sebagaimana diuraikan sebelumnya, sudah barang tentu masih banyak bentuk dan cara yang bisa dimanfaatkan. Hanya yang penting bagi guru atau dosen adanya bermacam-macam motivasi itu dapat dikembangkan dan diarahkan untuk dapat melahirkan hasil belajar yang bermakna. Mungkin pada mulanya, karena ada sesuatu (bentuk motivasi) siswa itu rajin belajar, tetapi guru harus mampu melanjutkan dari tahap rajin belajai itu bisa diarahkan menjadi kegiatan yang bermakna, sehingga hasilnya pun akan bermakna bagi kehidupan siswa atau mahasiswa sebagai subjek belajar.
2.5 Teori yang Berkaitan dengan Motivasi
Pada hakekatnya, manusia melakukan aktivitas itu didorong oleh adanya faktor-faktor kebutuhan biologis, insting, unsur-unsur kejiwaan yang lain serta adanya pengaruh perkembangan budaya manusia. sebenarnya semua faktor-faktor itu tidak dapat dipisahkan dari soal kebutuhan, kebutuhan dalam arti luas, baik yang berifat biologis, maupun psikologis. Dengan demikian, dapatlah ditegaskan bahwa motivasi akan selalu berkaitan dengan kebutuhan. Karena seseorang akan terdorong melakukan sesuatu bila merasa ada hal-hal yang harus dipenuhinya.
Menurut Morgan dan ditulis kembali oleh S. Nasution, bahwa manusia hidup dengan memiliki berbagai kebutuhan.
1. Kebutuhan berbuat untuk suatu aktivitas
2. Kebutuhan untuk menyenangkan orang lain
3. Kebutuhan untuk mencapai hasil
4. Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan
Relevan dengan kebutuhan yang diungkapkan oleh Morgan, maka timbullah teori tentang motivasi. Teori ini lahir dan berkembang di kalangan para psikolog. Menurut ahli ilmu jiwa, dijelaskan bahwa dalam motivasi itu ada suatu hierarki, maksudnya motivasi itu ada tingkatan-tingkatannya, yakni dari bawah ke atas.
Dalam hal ini beberapa teori tentang motivasi yang selalu bergayut dengan soal kebutuhan, yaitu :
1. Kebutuhan fisiologis, seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat dan sebagainya.
2. Kebutuhan akan keamanan (security), yakni rasa aman, bebas dari rasa takut dan kecemasan.
3. Kebutuhan akan cinta dan kasih.
4. Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial dan lain-lain.
Di samping teori-teori yang ada, teori-teori lain yang perlu diketahui adalah :
1. Teori Insting
Menurut teori ini tindakan setiap diri manusia diasumsikan seperti tingkat jenis binatang. Tindakan manusia itu dikatakan selalu berkait dengan insting atau pembawaan. Dalam memberikan respons terhadap adanya kebutuhan seolah-olah tanpa dipelajari. Tokoh dari teori ini adalah Mc. Dougall
2. Teori Fisiologis
Teori ini juga disebut “Behavior Theories”, menurut teori ini manusia itu berakar pada usaha memenuhi kebutuhan organic dan kepuasan atau kebutuhan untuk kepentingan fisik. Dari teori inilah muncul perjuangan hidup, perjuangan untuk mempertahankan hidup, struggle for survival.
3. Teori Psikoanalitik
Teori ini mirip dengan teori insting, tetapi lebih ditekankan pada unsur-unsur kejiwaan yang ada pada diri manusia. bahwa setiap tindakan manusia karena adanya unsur pribadi manusia yakni iq dan ego. Tokoh dari teori ini adalah Freud.
2.6 Pengaruh Motivasi Terhadap Pencapaian Tujuan atau Prestasi Belajar
Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.
Berdasarkan pengertian itu, maka motivasi dapat dikatakan sebagai alasan mengapa seseorang melakukan aktivitas dan merupakan penggerak dalam kegiatan belajar serta menjadi penunjuk arah dalam pencapaian tujuan. Artinya, tidak akan ada yang terjadi apabila motivasi tidak ada pada diri manusia. Tokoh-tokoh pendidikan seperti Mc Clelland (1985), Bandura (1977), Bloom (1980), Wernes (1986), Fyas dan Maehr (1987) melakukan berbagai penelitian tenang peranan motivasi dalam belajar dan menemukan hasil yang menarik.
Sebagai contoh, dalam sudi yang dilakukan Fyas & Maehr (1987) di antara tiga faktor, yaitu : latar belakang keluarga, kondisi atau konteks sekolah dan motivasi, faktor yang terakhir merupakan predictor yang paling baik untuk prestasi belajar. Welberg dkk (1983) menyimpulkan bahwa motivasi mempunyai kontribusi antara 11 sampai 20 persen terhadap prestasi belajar. Studi yang dilakukan suciati (1990) menyimpulkan bahwa kontribusi motivasi sebesar 36 persen. Sedangkan MC Clelland menunjukkan bahwa motivasi berprestasi (achievement motivation) mempunyai kontribusi sampai 64 persen terhadap prestasi belajar.
Berdasarkan penemuan di atas kita dapat mempertimbangkan untuk melakukan intervensi dalam hal meningkatkan motivasi belajar mahasiswa.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa, keberhasilan seseorang dalam prestasi belajar tidak mutlak ditentukan oleh kemampuan intelegensinya yang tinggi tetapi motivasi yang kuat dapat memberikan kesuksesan kepada mahasiswa yang ber-IQ sedang, semakin kuat motivasi seseorang maka akan semakin besar peluang untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam prestasi belajar.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
motivasi merupakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu.
Ada tiga fungsi motivasi yaitu :
a. Mendorong manusia untuk berbuat
b. Menentukan arah perbuatan
c. Menyeleksi perbuatan
Macam-macam motivasi
a. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
b. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth & Marquis
c. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
d. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
Bentuk dan cara menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar :
a. Memberi angka
b. Hadiah
c. Saingan/kompetisi
d. Ego-involvement
e. Memberi ulangan
f. Pujian
g. Hukuman
h. Hasrat untuk belajar
i. Minat
j. Tujuan yang diakui
Teori yang berkaitan dengan motivasi
a. Dalam hal ini beberapa teori tentang motivasi yang selalu bergayut dengan soal kebutuhan, yaitu :
Kebutuhan fisiologis, seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat dan sebagainya.
Kebutuhan akan keamanan (security), yakni rasa aman, bebas dari rasa takut dan kecemasan.
Kebutuhan akan cinta dan kasih.
Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial dan lain-lain.
b. Di samping teori-teori yang ada, teori-teori lain yang perlu diketahui adalah :
Teori insting
Teori fisiologis
Teori psikoanalitik
Pengaruh motivasi terhadap pencapaian tujuan atau prestasi :
Maka motivasi dapat dikatakan sebagai alasan mengapa seseorang melakukan aktivitas dan merupakan penggerak dalam kegiatan belajar serta menjadi penunjuk arah dalam pencapaian tujuan. Artinya, tidak akan ada yang terjadi apabila motivasi tidak ada pada diri manusia.
Semakin kuat motivasi seseorang maka akan semakin besar peluang untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam prestasi belajar.
3.2 Saran
Setelah menarik kesimpulan, penyusun menyarankan kepada pembaca untuk dapat memotivasi dirinya sendiri untuk mencapai sesuatu yang dikehendaki. Begitu pula dengan orang tua dan guru/dosen, agar dapat memotivasi anak dan siswa/mahasiswanya untuk mencapai kesuksesan dalam meraih sesuatu.
DAFTAR PUSTAKA
Irawan, Prasetya, dkk. 1997. Teori Belajar, Motivasi, dan Keterampilan Mengajar. PAU-PPAI: Jakarta.
Sardiman. 2002. Intruksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
.. 2008. Instruksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Surjadi. 1989. Membuat Siswa Aktif Belajar. Bandung: Mandar Maju.
Rabu, 13 Januari 2010
MAKALAHPENGARUH KUATNYA INTERAKSI TERHADAP PRESTASI SISWA
PENGARUH KUATNYA INTERAKSI TERHADAP PRESTASI SISWA
MAKALAH
(Disusun untuk memenuhi tugas akhir Bahasa Indonesia)
OLEH
S U P A R T O M O
211 408 294
PRODI PENDIDIKAN AKUNTANSI
JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2009
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena dengan rahmat, karunia, dan izin-Nyalah sehingga penyusunan makalah dengan judul “PENGARUH KUATNYA INTERAKSI TERHADAP PRESTASI SISWA” dapat penyusun selesaikan tepat pada waktunya meskipun terdapat banyak kesulitan dan hambatan namun, hal-hal tersebut tidak membuat penyusun pesimis untuk terus berusaha.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan karena pada hakekatnya manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat jauh dari kesempurnaan. Berdasarkan hal itu, tidak heran ketika panca indera penulispun memiliki keterbatasan dalam hal fungsi. Dengan menyadari hal itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi mendekatkan diri dengan kesempurnaan penulisan makalah-makalah berikutnya.
Penuh kerendahan hati, penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan penulisan makalah ini, karena tanpa bantuannya akan sangat pasti penulis mendapatkan masalah yang lebih rumit dan menghambat kelancaran penulisan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan mendapat Berkah dan Rahmat dari Allah SWT serta merupakan ibadah yang bermanfaat fiddin wal akhirah.
Gorontalo, Juni 2009
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Permasalahan
1.3 Tujuan Penyusunan Makalah
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Evaluasi
2.2 Fungsi Motivasi Dalam Belajar
2.3 Macam-Macam Motivasi
2.4 Bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi
2.5 Beberapa Teori yang Berhubungan Dengan Motivasi
2.6 Pengaruh Motivasi Terhadap Pencapaian Tujuan
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses belajar-mengajar dapat dipahami atau dijelaskan dengan menggunakan berbagai teori belajar. Di samping itu proses tersebut dapat pula dijelaskan dengan memperhatikan satu aspek yang penting, yaitu motivasi siswa.
Di dalam proses belajar-mengajar, dosen terkadang dirisaukan dengan adanya mahasiswa yang dinilai cerdas tetapi mempunyai prestasi yang sedang-sedang saja. Dalam interaksi di kelas dia kelihatan bosan dan lesu, sedikit sekali menggunakan pikirannya untuk memecahkan persoalan yang dikemukakan di kelas, apalagi secara aktif melibatkan diri dalam proses belajar-mengajar,
Gejala seperti ini sering terjadi. Salah satu cara memahaminya dengan analisis yang dikemukakan oleh Romiszowski (1984), bahwa kinerja atau performance yang rendah dapat disebabkan oleh berbagai factor yang berasal dari dalam dan luar mahasiswa.
Berikut dapat memperjelas yang dimaksud.
a. Belum menguasai pengetahuan/keterampilan.
b. Sifat atau struktur tugas yang sulit atau tidak menyenangkan.
c. Konsekwensi negative pelaksanaan suatu tugas.
d. Jarang berlatih menggunakan keterampilan tersebut.
Berdasarkan point-point di atas, seorang mahasiswa yang berprestasi rendah kemungkinan disebabkan :
1. Tidak dapat melakukan tugas (belajar), karena tidak mempunyai atau menguasai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan. (point a)
2. Tidak “mau” melakukan tugas tertentu, meskipun sebenarnya mempunyai kemampuan yang diperlukan. Hal ini disebabkan berbagai faktor, seperti topic yang tidak menarik, cara mengajar dosen yang idak jelas, atau karena khawatir dengan konsekwensi yang harus ditanggung apabila mengalami kegagalan. (point b.c.dan d)
Keberhasilan mahasiswa dipengaruhi oleh banyak faktor yang berasal dari dalam dan luar mahasiswa. Faktor luar misalnya fasilitas belajar, cara mengajar dosen, system pemberian umpan balik dan sebagainya. Faktor-faktor dari dalam mahasiswa mencakup kecerdasan, strategi belajar, motivasi dan sebagainya.
Melihat motivasi merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam mencari dan menambah kecerdasan mahasiswa maka motivasi akan dibahas seperlunya dalam makalah ini.
1.2 Permasalahan
Berdasarkan beberapa permasalahan, penyusun mengangkat materi mengenai motivasi dalam belajar, diantaranya :
Pengertian motivasi
Fungsi motivasi dalam belajar
Macam-macam motivasi
Bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi
Beberapa teori yang berhubungan dengan motivasi
Pengaruh motivasi terhadap pencapaian tujuan atau prestasi
1.3 Manfaat Penyusunan Makalah
• Untuk mengetahui apa pengertian motivasi
• Untuk mengetahui fungsi motivasi dalam belajar
• Untuk mengetahui macam-macam motivasi
• Untuk mengetahui bagaimana bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi
• Untuk mengetahui teori yang berhubungan dengan motives
• Untuk mengetahui apa pengaruh motivasi terhadap pencapaian tujuan atau prestasi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Motivasi
Istilah motivasi berasal dari bahasa Latin “movere” yang berarti “menggerakkan”. Berdasarkan pengertian ini makna motivasi menjadi berkembang. Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut.
Sedangkan Ames (1984) menjelaskan motivasi dari pandangan lain bahwa menurutnya, motivasi didefinisikan sebagai perspektif yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri dan lingkungannya.
Motivasi juga dapat dijelaskan sebagai “tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu” (Cropley, 1985). Dalam pengertian ini mahasiswa akan berusaha mencapai suatu tujuan karena dirangsang oleh manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh.
Dalam proses belajar motivasi mahasiswa tercermin melalui ketekunan yang tidak mudah patah untuk mencapai sukses, meskipun dihadang banyak kesulitan. Motivasi juga ditunjukkan melalui intensitas untuk kerja dalam melakukan suatu tugas.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Dikatakan “keseluruhan”, karena pada umumnya ada beberapa motif yang bersama-sama menggerakkan siswa untuk belajar. Motivasi belajar adalah faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi yang kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Ibaratnya seseorang itu menghadiri suatu ceramah, tetapi karena ia tidak tertarik pada materi yang diceramahkan, maka ia tidak akan mencamkan, apalagi mencatat isi ceramah tersebut. Seseorang tidak memiliki motivasi kecuali karena paksaan atau sekedar seremonial. Seorang siswa yang memiliki intelegensia cukup tinggi, boleh jadi gagal karena kekurangan motivasi. Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi yang tepat. Bergayat dengan ini maka kegagalan belajar siswa jangan begitu saja menyalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberi motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan kegiatan siswa untuk berbuat atau belajar. Jadi tugas guru, bagaimana mendorong para siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi.
2.2 Fungsi Motivasi Dalam Belajar
Serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu sebenarnya dilatarbelakangi oleh sesuatu atau yang secara umum dinamakan motivasi. Motivasi inilah yang mendorong mengapa mereka itu melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan.
Begitu juga untuk belajar sangat diperlukan adanya motivasi guna melahirkan dan mempertahankan semangat untuk belajar. “Motivation is an essential condition of learning”, hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi, motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa atau mahasiswa.
Perlu ditegaskan, bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan yang akan dicapai. Dengan demikian motivasi itu mempengaruhi adanya kegiatan.
Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi :
Mendorong manusia untuk berbuat
Jadi, motivasi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
Menentukan arah perbuatan
Artinya, motivasi mengarahkan ke mana tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan.
Menyeleksi perbuatan
Yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan dan serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.
Di samping tiga fungsi di atas, ada fungsi-fungsi lain. Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan pretasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
2.3 Macam-Macam Motivasi
Berbicara tentang macam atau jenis motivasi ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, motivasi atau motif-moif yang aktif itu sangat bervariasi.
1. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
a. Motif-motif bawaan
Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Sebagai contoh misalnya : dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan untuk bekerja, untuk beristirahat, dorongan seksual. Motif-motif ini sering kali disebut motif-motif yang disyaratkan secara biologis. Relevan dengan ini, maka Arden N. Frandsen memberi istilah jenis motif physiological drives.
b. Motif-motif yang dipelajari
Maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh : dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu di dalam masyarakat. Motif-motif ini sering kali disebut dengan motif-motif yang disyaratkan secara sosial. Sebab manusia hidup dalam lingkungan sosial dengan sesama manusia yang lain, sehingga motivasi itu terbentuk. Frandsen mengistilahkan dengan affiliative needs. Sebab justru dengan kemampuan berhubungan, kerja sama di dalam masyarakat tercapailah suatu kepuasan diri. Sehingga manusia perlu mengembangkan sifat-sifat ramah, kooperatif, membina hubungan baik dengan sesame, apalagi orang tua dan guru. Dalam kegiatan belajar-mengajar, hal ini dapat membantu dalam usaha mencapai prestasi.
Di samping itu Frandsen, masih menambahkan jenis-jenis motif sebagai berikut :
a. Cognitive Motives
Motif ini menunjuk pada gejala intrinsic, yakni menyangkut kepuasan individual. Kepuasan individual yang berada di dalam diri manusia dan biasanya berwujud proses dan produk mental. Jenis motif seperti ini adalah sangat primer dalam kegiatan belajar di sekolah, terutama yang berkaitan dengan pengembangan intelektual.
b. Self expression
Penampilan diri adalah sebagian dari perilaku manusia. yang penting kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi juga mampu membuat suatu kejadian. Untuk ini memang diperlukan kreativitas, penuh imajinasi, jadi dalam hal ini seseorang memiliki keinginan untuk aktualisasi diri.
c. Self enhancement
Melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang. Ketinggian dan kemajuan diri ini menjadi salah satu keinginan bagi setiap individu. Dalam belajar dapat diciptakan suasana kompetensi yang sehat bagi anak didik untuk mencapai suatu prestasi.
2. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis
a. Motif atau kebutuhan organis
Meliputi misalnya, kebutuhan untuk minum, makan, bernafas, seksual, berbuat, dan kebutuhan untuk beristirahat. Ini sesuai dengan jenis physiological drives dari Frandsen.
b. Motif-motif darurat
Yang termasuk dalam jenis ini antara lain : dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu. Jelasnya motivasi jenis ini timbul karena rangsangan dari luar.
c. Motif-motif objektif
Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motif-motif ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.
3. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis yakni motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah. Yang termasuk motivasi jasmaniah seperti misalnya : refleks, insting otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rohaniah adalah kemauan.
Soal kemauan itu pada setiap diri manusia terbentuk melalui empat momen.
a. Momen timbulnya alasan.
Sebagai contoh seorang pemuda giat berlatih olahraga untuk menghadapi suatu porseni di sekolahnya, tetapi disuruh ibunya untuk mengantarkan seorang tamu membeli tiket karena tamu itu mau kembali ke Jakarta. Si pemuda itu kemudian mengantarkan tamu tersebut. Dalam hal ini pemuda tadi timbul alasan baru untuk melakukan suatu kegiatan (kegiatan mengantar). Alasan baru itu bisa karena untuk menghormat tamu atau mungkin keinginan untuk tidak mengecewakan ibunya.
b. Momen pilih.
Momen pilih, maksudnya dalam keadaan pada waktu ada alternatif-alternatif yang mengakibatkan persaingan antara di antara alternatif atau alasan-alasan itu. Kemudian seorang menimbang-nimbang dari berbagai alternatif untuk kemudian menetukan pilihan alternatif yang akan dikerjakan.
c. Momen putusan.
Dalam persaingan antara berbagai alasan, sudah barang tentu berakhir dengan dipilihnya satu alternative. Satu alternatif yang dipilih inilah yang menjadi putusan untuk dikerjakan.
d. Momen terbentuknya kemauan.
Kalau seseorang sudah menetapkan satu putusan untuk dikerjakan, timbullah dorongan pada diri seseorang untuk bertindak dan melaksanakan putusan itu.
4. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
a. Motif intrinsik
Yang dimaksud dengan motif intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca, tidak perlu ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Kemudian kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya (misalnya kegiatan belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri. Sebagai contoh konkret seorang siswa itu belajar, karena betul-betul ingin mendapat pengetahuan, nilai atau keterampilan agar dapat berubah tingkah lakunya secara konstrukif, tidak karena tujuan yang lain-lain. Intrinsic motivations are interent in the learnig situations and meet pupil-needs and purposes.
Itulah sebabnya motivasi intrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri dan secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya. Seperti tadi dicontohkan bahwa seseorang belajar, memang benar-benar ingin mengetahui segala sesuatunya, bukan karena ingin pujian atau ganjaran.
Perlu diketahui bahwa siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu. Satu-satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang ingin dicapai ialah belajar, tanpa belajar tidak mungkin mendapat pengetahuan, tidak mungkin menjadi ahli. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan, kebutuhan yang berisikan keharsuan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar symbol dan seremonial.
b. Motif ekstrinsik
Motif ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya akan diadakan ujian, dengan harapan mendapatkan nilai baik, atau agar mendapat hadiah. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bergayut dengan esensi apa yang dilakukannya itu. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya akivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang secara mutlak berkait dengan aktivitas belajar.
Perlu ditegaskan, bukan berarti bahwa motivasi ekstrinsik ini tidak baik dan tidak penting. dalam kegiatan belajar-mengajar motivasi ini tetap penting dan diperlukan. Sebab kemungkinan besar keaadan siswa itu dinamis, berubah-ubah, dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik sebagai pendorong yang mendukung motivasi intrinsic yang melemah.
2.4 Bentuk dan Cara Menumbuhkan Motivasi
Di dalam kegiatan belajar –mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar.
Dalam hal ini perlu diketahui bahwa cara dan jenis menumbuhkan motivasi ada bermacam-macam. Tetapi untuk motivasi ekstrinsik kadang-kadang tepat dan kadang-kadang juga bisa kurang sesuai. Hal ini guru atau dosen hati-hati dalam menumbuhkan dan memberi motivasi bagi kegiatan belajar para anak didik. Sebab mungkin maksudnya memberikan motivasi tetapi justru tidak menguntungkan bagi perkembangan belajar siswa.
Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah.
1. Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai symbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar, yang utama justru untuk mencapai angka atau nilai yang baik. Sehingga siswa biasanya yang dikejar adalah nilai ulangan atau nilai-nilai yang baik pada raport.
Angka-angka yang baik itu bagi para siswa atau mahasiswa merupakan motivasi yang sangat kuat. Tetapi ada juga, bahkan banyak siswa bekerja atau belajar hanya ingin mengejar kenaikan kelas, naik kelas adalah hasil yang memuaskan meskipun nilai-nilainya sangat standar. Hal ini menunjukkan moitvasi yang dimilikinya kurang berbobot bila dibandingkan dengan siswa-siswa yang menginginkan angka yang baik. Namun demikian semua itu harus diingat oleh guru atau dosen bahwa pencapaian angka-angka seperti itu belum merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang bermakna. Oleh karena itu, langkah selanjutnya yang ditempuh oleh guru atau dosen adalah bagaimana cara memberikan angka-angka sehingga dapat dikaitkan dengan values yang terkandung di dalam setiap pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa sehingga tidak sekedar kognitif tetapi juga keterampilan dan afeksinya.
2. Hadiah
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi tetapi taklah selalu demikian. Karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak mungkin senang dan tidak berbakat untuk suatu pekerjaan. Sebagai contoh hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi seorang siswa yang tidak memiliki bakat menggambar.
3. Saingan atau kompetisi
Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individual maupun kelompok dapat meningkatkan pretsasi belajar siswa. Memang unsur persaingan ini banyak dimanfaatkan di dalam dunia industri atau perdangangan, tetapi juga sangat baik digunakan untuk menigkatkan kegiatan belajar siswa.
4. Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah symbol kebanggaan dan harga diri, begitu juga untuk siswa sebagai subjek belajar. Para siswa akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.
5. Memberi ulangan
Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu,, memberi ulangan itu juga merupakan sarana motivasi. Tetapi harus diingat oleh guru atau dosen, adalah jangan terlalu sering (misalnya setiap hari) karena bisa membosankan. Dalam hal ini guru harus juga terbuka, maksudnya kalau akan diadakan ulangan harus diberitahukan kepada siswanya.
6. Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.
7. Pujian
Apabila ada siswa yang sukses dan berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, maka perlu diberikan pujian. Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu, supaya pujian ini merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenagkan dan mempertinggi gairah belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.
8. Hukuman
Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.
9. Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik, bila dibandingkan segala kegiatan yang tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.
10. Minat
Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar itu akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Mengenai minat ini antara lain dapat dibangkitkan dengan cara sebagai berikut :
a. Membangkitkan adanya suatu kebutuhan
b. Menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau
c. Memberi kesan untuk mendapatkan hasil yang baik
d. Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar
11. Tujuan yang diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasakan sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.
Di samping bentuk-bentuk motivasi sebagaimana diuraikan sebelumnya, sudah barang tentu masih banyak bentuk dan cara yang bisa dimanfaatkan. Hanya yang penting bagi guru atau dosen adanya bermacam-macam motivasi itu dapat dikembangkan dan diarahkan untuk dapat melahirkan hasil belajar yang bermakna. Mungkin pada mulanya, karena ada sesuatu (bentuk motivasi) siswa itu rajin belajar, tetapi guru harus mampu melanjutkan dari tahap rajin belajai itu bisa diarahkan menjadi kegiatan yang bermakna, sehingga hasilnya pun akan bermakna bagi kehidupan siswa atau mahasiswa sebagai subjek belajar.
2.5 Teori yang Berkaitan dengan Motivasi
Pada hakekatnya, manusia melakukan aktivitas itu didorong oleh adanya faktor-faktor kebutuhan biologis, insting, unsur-unsur kejiwaan yang lain serta adanya pengaruh perkembangan budaya manusia. sebenarnya semua faktor-faktor itu tidak dapat dipisahkan dari soal kebutuhan, kebutuhan dalam arti luas, baik yang berifat biologis, maupun psikologis. Dengan demikian, dapatlah ditegaskan bahwa motivasi akan selalu berkaitan dengan kebutuhan. Karena seseorang akan terdorong melakukan sesuatu bila merasa ada hal-hal yang harus dipenuhinya.
Menurut Morgan dan ditulis kembali oleh S. Nasution, bahwa manusia hidup dengan memiliki berbagai kebutuhan.
1. Kebutuhan berbuat untuk suatu aktivitas
2. Kebutuhan untuk menyenangkan orang lain
3. Kebutuhan untuk mencapai hasil
4. Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan
Relevan dengan kebutuhan yang diungkapkan oleh Morgan, maka timbullah teori tentang motivasi. Teori ini lahir dan berkembang di kalangan para psikolog. Menurut ahli ilmu jiwa, dijelaskan bahwa dalam motivasi itu ada suatu hierarki, maksudnya motivasi itu ada tingkatan-tingkatannya, yakni dari bawah ke atas.
Dalam hal ini beberapa teori tentang motivasi yang selalu bergayut dengan soal kebutuhan, yaitu :
1. Kebutuhan fisiologis, seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat dan sebagainya.
2. Kebutuhan akan keamanan (security), yakni rasa aman, bebas dari rasa takut dan kecemasan.
3. Kebutuhan akan cinta dan kasih.
4. Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial dan lain-lain.
Di samping teori-teori yang ada, teori-teori lain yang perlu diketahui adalah :
1. Teori Insting
Menurut teori ini tindakan setiap diri manusia diasumsikan seperti tingkat jenis binatang. Tindakan manusia itu dikatakan selalu berkait dengan insting atau pembawaan. Dalam memberikan respons terhadap adanya kebutuhan seolah-olah tanpa dipelajari. Tokoh dari teori ini adalah Mc. Dougall
2. Teori Fisiologis
Teori ini juga disebut “Behavior Theories”, menurut teori ini manusia itu berakar pada usaha memenuhi kebutuhan organic dan kepuasan atau kebutuhan untuk kepentingan fisik. Dari teori inilah muncul perjuangan hidup, perjuangan untuk mempertahankan hidup, struggle for survival.
3. Teori Psikoanalitik
Teori ini mirip dengan teori insting, tetapi lebih ditekankan pada unsur-unsur kejiwaan yang ada pada diri manusia. bahwa setiap tindakan manusia karena adanya unsur pribadi manusia yakni iq dan ego. Tokoh dari teori ini adalah Freud.
2.6 Pengaruh Motivasi Terhadap Pencapaian Tujuan atau Prestasi Belajar
Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.
Berdasarkan pengertian itu, maka motivasi dapat dikatakan sebagai alasan mengapa seseorang melakukan aktivitas dan merupakan penggerak dalam kegiatan belajar serta menjadi penunjuk arah dalam pencapaian tujuan. Artinya, tidak akan ada yang terjadi apabila motivasi tidak ada pada diri manusia. Tokoh-tokoh pendidikan seperti Mc Clelland (1985), Bandura (1977), Bloom (1980), Wernes (1986), Fyas dan Maehr (1987) melakukan berbagai penelitian tenang peranan motivasi dalam belajar dan menemukan hasil yang menarik.
Sebagai contoh, dalam sudi yang dilakukan Fyas & Maehr (1987) di antara tiga faktor, yaitu : latar belakang keluarga, kondisi atau konteks sekolah dan motivasi, faktor yang terakhir merupakan predictor yang paling baik untuk prestasi belajar. Welberg dkk (1983) menyimpulkan bahwa motivasi mempunyai kontribusi antara 11 sampai 20 persen terhadap prestasi belajar. Studi yang dilakukan suciati (1990) menyimpulkan bahwa kontribusi motivasi sebesar 36 persen. Sedangkan MC Clelland menunjukkan bahwa motivasi berprestasi (achievement motivation) mempunyai kontribusi sampai 64 persen terhadap prestasi belajar.
Berdasarkan penemuan di atas kita dapat mempertimbangkan untuk melakukan intervensi dalam hal meningkatkan motivasi belajar mahasiswa.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa, keberhasilan seseorang dalam prestasi belajar tidak mutlak ditentukan oleh kemampuan intelegensinya yang tinggi tetapi motivasi yang kuat dapat memberikan kesuksesan kepada mahasiswa yang ber-IQ sedang, semakin kuat motivasi seseorang maka akan semakin besar peluang untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam prestasi belajar.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
motivasi merupakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu.
Ada tiga fungsi motivasi yaitu :
a. Mendorong manusia untuk berbuat
b. Menentukan arah perbuatan
c. Menyeleksi perbuatan
Macam-macam motivasi
a. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
b. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth & Marquis
c. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
d. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
Bentuk dan cara menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar :
a. Memberi angka
b. Hadiah
c. Saingan/kompetisi
d. Ego-involvement
e. Memberi ulangan
f. Pujian
g. Hukuman
h. Hasrat untuk belajar
i. Minat
j. Tujuan yang diakui
Teori yang berkaitan dengan motivasi
a. Dalam hal ini beberapa teori tentang motivasi yang selalu bergayut dengan soal kebutuhan, yaitu :
Kebutuhan fisiologis, seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat dan sebagainya.
Kebutuhan akan keamanan (security), yakni rasa aman, bebas dari rasa takut dan kecemasan.
Kebutuhan akan cinta dan kasih.
Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial dan lain-lain.
b. Di samping teori-teori yang ada, teori-teori lain yang perlu diketahui adalah :
Teori insting
Teori fisiologis
Teori psikoanalitik
Pengaruh motivasi terhadap pencapaian tujuan atau prestasi :
Maka motivasi dapat dikatakan sebagai alasan mengapa seseorang melakukan aktivitas dan merupakan penggerak dalam kegiatan belajar serta menjadi penunjuk arah dalam pencapaian tujuan. Artinya, tidak akan ada yang terjadi apabila motivasi tidak ada pada diri manusia.
Semakin kuat motivasi seseorang maka akan semakin besar peluang untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam prestasi belajar.
3.2 Saran
Setelah menarik kesimpulan, penyusun menyarankan kepada pembaca untuk dapat memotivasi dirinya sendiri untuk mencapai sesuatu yang dikehendaki. Begitu pula dengan orang tua dan guru/dosen, agar dapat memotivasi anak dan siswa/mahasiswanya untuk mencapai kesuksesan dalam meraih sesuatu.
DAFTAR PUSTAKA
Irawan, Prasetya, dkk. 1997. Teori Belajar, Motivasi, dan Keterampilan Mengajar. PAU-PPAI: Jakarta.
Sardiman. 2002. Intruksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
.. 2008. Instruksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Surjadi. 1989. Membuat Siswa Aktif Belajar. Bandung: Mandar Maju.
MAKALAH
(Disusun untuk memenuhi tugas akhir Bahasa Indonesia)
OLEH
S U P A R T O M O
211 408 294
PRODI PENDIDIKAN AKUNTANSI
JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2009
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena dengan rahmat, karunia, dan izin-Nyalah sehingga penyusunan makalah dengan judul “PENGARUH KUATNYA INTERAKSI TERHADAP PRESTASI SISWA” dapat penyusun selesaikan tepat pada waktunya meskipun terdapat banyak kesulitan dan hambatan namun, hal-hal tersebut tidak membuat penyusun pesimis untuk terus berusaha.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan karena pada hakekatnya manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat jauh dari kesempurnaan. Berdasarkan hal itu, tidak heran ketika panca indera penulispun memiliki keterbatasan dalam hal fungsi. Dengan menyadari hal itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi mendekatkan diri dengan kesempurnaan penulisan makalah-makalah berikutnya.
Penuh kerendahan hati, penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan penulisan makalah ini, karena tanpa bantuannya akan sangat pasti penulis mendapatkan masalah yang lebih rumit dan menghambat kelancaran penulisan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan mendapat Berkah dan Rahmat dari Allah SWT serta merupakan ibadah yang bermanfaat fiddin wal akhirah.
Gorontalo, Juni 2009
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Permasalahan
1.3 Tujuan Penyusunan Makalah
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Evaluasi
2.2 Fungsi Motivasi Dalam Belajar
2.3 Macam-Macam Motivasi
2.4 Bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi
2.5 Beberapa Teori yang Berhubungan Dengan Motivasi
2.6 Pengaruh Motivasi Terhadap Pencapaian Tujuan
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses belajar-mengajar dapat dipahami atau dijelaskan dengan menggunakan berbagai teori belajar. Di samping itu proses tersebut dapat pula dijelaskan dengan memperhatikan satu aspek yang penting, yaitu motivasi siswa.
Di dalam proses belajar-mengajar, dosen terkadang dirisaukan dengan adanya mahasiswa yang dinilai cerdas tetapi mempunyai prestasi yang sedang-sedang saja. Dalam interaksi di kelas dia kelihatan bosan dan lesu, sedikit sekali menggunakan pikirannya untuk memecahkan persoalan yang dikemukakan di kelas, apalagi secara aktif melibatkan diri dalam proses belajar-mengajar,
Gejala seperti ini sering terjadi. Salah satu cara memahaminya dengan analisis yang dikemukakan oleh Romiszowski (1984), bahwa kinerja atau performance yang rendah dapat disebabkan oleh berbagai factor yang berasal dari dalam dan luar mahasiswa.
Berikut dapat memperjelas yang dimaksud.
a. Belum menguasai pengetahuan/keterampilan.
b. Sifat atau struktur tugas yang sulit atau tidak menyenangkan.
c. Konsekwensi negative pelaksanaan suatu tugas.
d. Jarang berlatih menggunakan keterampilan tersebut.
Berdasarkan point-point di atas, seorang mahasiswa yang berprestasi rendah kemungkinan disebabkan :
1. Tidak dapat melakukan tugas (belajar), karena tidak mempunyai atau menguasai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan. (point a)
2. Tidak “mau” melakukan tugas tertentu, meskipun sebenarnya mempunyai kemampuan yang diperlukan. Hal ini disebabkan berbagai faktor, seperti topic yang tidak menarik, cara mengajar dosen yang idak jelas, atau karena khawatir dengan konsekwensi yang harus ditanggung apabila mengalami kegagalan. (point b.c.dan d)
Keberhasilan mahasiswa dipengaruhi oleh banyak faktor yang berasal dari dalam dan luar mahasiswa. Faktor luar misalnya fasilitas belajar, cara mengajar dosen, system pemberian umpan balik dan sebagainya. Faktor-faktor dari dalam mahasiswa mencakup kecerdasan, strategi belajar, motivasi dan sebagainya.
Melihat motivasi merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam mencari dan menambah kecerdasan mahasiswa maka motivasi akan dibahas seperlunya dalam makalah ini.
1.2 Permasalahan
Berdasarkan beberapa permasalahan, penyusun mengangkat materi mengenai motivasi dalam belajar, diantaranya :
Pengertian motivasi
Fungsi motivasi dalam belajar
Macam-macam motivasi
Bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi
Beberapa teori yang berhubungan dengan motivasi
Pengaruh motivasi terhadap pencapaian tujuan atau prestasi
1.3 Manfaat Penyusunan Makalah
• Untuk mengetahui apa pengertian motivasi
• Untuk mengetahui fungsi motivasi dalam belajar
• Untuk mengetahui macam-macam motivasi
• Untuk mengetahui bagaimana bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi
• Untuk mengetahui teori yang berhubungan dengan motives
• Untuk mengetahui apa pengaruh motivasi terhadap pencapaian tujuan atau prestasi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Motivasi
Istilah motivasi berasal dari bahasa Latin “movere” yang berarti “menggerakkan”. Berdasarkan pengertian ini makna motivasi menjadi berkembang. Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut.
Sedangkan Ames (1984) menjelaskan motivasi dari pandangan lain bahwa menurutnya, motivasi didefinisikan sebagai perspektif yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri dan lingkungannya.
Motivasi juga dapat dijelaskan sebagai “tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu” (Cropley, 1985). Dalam pengertian ini mahasiswa akan berusaha mencapai suatu tujuan karena dirangsang oleh manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh.
Dalam proses belajar motivasi mahasiswa tercermin melalui ketekunan yang tidak mudah patah untuk mencapai sukses, meskipun dihadang banyak kesulitan. Motivasi juga ditunjukkan melalui intensitas untuk kerja dalam melakukan suatu tugas.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Dikatakan “keseluruhan”, karena pada umumnya ada beberapa motif yang bersama-sama menggerakkan siswa untuk belajar. Motivasi belajar adalah faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi yang kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Ibaratnya seseorang itu menghadiri suatu ceramah, tetapi karena ia tidak tertarik pada materi yang diceramahkan, maka ia tidak akan mencamkan, apalagi mencatat isi ceramah tersebut. Seseorang tidak memiliki motivasi kecuali karena paksaan atau sekedar seremonial. Seorang siswa yang memiliki intelegensia cukup tinggi, boleh jadi gagal karena kekurangan motivasi. Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi yang tepat. Bergayat dengan ini maka kegagalan belajar siswa jangan begitu saja menyalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberi motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan kegiatan siswa untuk berbuat atau belajar. Jadi tugas guru, bagaimana mendorong para siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi.
2.2 Fungsi Motivasi Dalam Belajar
Serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu sebenarnya dilatarbelakangi oleh sesuatu atau yang secara umum dinamakan motivasi. Motivasi inilah yang mendorong mengapa mereka itu melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan.
Begitu juga untuk belajar sangat diperlukan adanya motivasi guna melahirkan dan mempertahankan semangat untuk belajar. “Motivation is an essential condition of learning”, hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi, motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa atau mahasiswa.
Perlu ditegaskan, bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan yang akan dicapai. Dengan demikian motivasi itu mempengaruhi adanya kegiatan.
Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi :
Mendorong manusia untuk berbuat
Jadi, motivasi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
Menentukan arah perbuatan
Artinya, motivasi mengarahkan ke mana tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan.
Menyeleksi perbuatan
Yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan dan serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.
Di samping tiga fungsi di atas, ada fungsi-fungsi lain. Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan pretasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
2.3 Macam-Macam Motivasi
Berbicara tentang macam atau jenis motivasi ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, motivasi atau motif-moif yang aktif itu sangat bervariasi.
1. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
a. Motif-motif bawaan
Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Sebagai contoh misalnya : dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan untuk bekerja, untuk beristirahat, dorongan seksual. Motif-motif ini sering kali disebut motif-motif yang disyaratkan secara biologis. Relevan dengan ini, maka Arden N. Frandsen memberi istilah jenis motif physiological drives.
b. Motif-motif yang dipelajari
Maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh : dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu di dalam masyarakat. Motif-motif ini sering kali disebut dengan motif-motif yang disyaratkan secara sosial. Sebab manusia hidup dalam lingkungan sosial dengan sesama manusia yang lain, sehingga motivasi itu terbentuk. Frandsen mengistilahkan dengan affiliative needs. Sebab justru dengan kemampuan berhubungan, kerja sama di dalam masyarakat tercapailah suatu kepuasan diri. Sehingga manusia perlu mengembangkan sifat-sifat ramah, kooperatif, membina hubungan baik dengan sesame, apalagi orang tua dan guru. Dalam kegiatan belajar-mengajar, hal ini dapat membantu dalam usaha mencapai prestasi.
Di samping itu Frandsen, masih menambahkan jenis-jenis motif sebagai berikut :
a. Cognitive Motives
Motif ini menunjuk pada gejala intrinsic, yakni menyangkut kepuasan individual. Kepuasan individual yang berada di dalam diri manusia dan biasanya berwujud proses dan produk mental. Jenis motif seperti ini adalah sangat primer dalam kegiatan belajar di sekolah, terutama yang berkaitan dengan pengembangan intelektual.
b. Self expression
Penampilan diri adalah sebagian dari perilaku manusia. yang penting kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi juga mampu membuat suatu kejadian. Untuk ini memang diperlukan kreativitas, penuh imajinasi, jadi dalam hal ini seseorang memiliki keinginan untuk aktualisasi diri.
c. Self enhancement
Melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang. Ketinggian dan kemajuan diri ini menjadi salah satu keinginan bagi setiap individu. Dalam belajar dapat diciptakan suasana kompetensi yang sehat bagi anak didik untuk mencapai suatu prestasi.
2. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis
a. Motif atau kebutuhan organis
Meliputi misalnya, kebutuhan untuk minum, makan, bernafas, seksual, berbuat, dan kebutuhan untuk beristirahat. Ini sesuai dengan jenis physiological drives dari Frandsen.
b. Motif-motif darurat
Yang termasuk dalam jenis ini antara lain : dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu. Jelasnya motivasi jenis ini timbul karena rangsangan dari luar.
c. Motif-motif objektif
Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motif-motif ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.
3. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis yakni motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah. Yang termasuk motivasi jasmaniah seperti misalnya : refleks, insting otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rohaniah adalah kemauan.
Soal kemauan itu pada setiap diri manusia terbentuk melalui empat momen.
a. Momen timbulnya alasan.
Sebagai contoh seorang pemuda giat berlatih olahraga untuk menghadapi suatu porseni di sekolahnya, tetapi disuruh ibunya untuk mengantarkan seorang tamu membeli tiket karena tamu itu mau kembali ke Jakarta. Si pemuda itu kemudian mengantarkan tamu tersebut. Dalam hal ini pemuda tadi timbul alasan baru untuk melakukan suatu kegiatan (kegiatan mengantar). Alasan baru itu bisa karena untuk menghormat tamu atau mungkin keinginan untuk tidak mengecewakan ibunya.
b. Momen pilih.
Momen pilih, maksudnya dalam keadaan pada waktu ada alternatif-alternatif yang mengakibatkan persaingan antara di antara alternatif atau alasan-alasan itu. Kemudian seorang menimbang-nimbang dari berbagai alternatif untuk kemudian menetukan pilihan alternatif yang akan dikerjakan.
c. Momen putusan.
Dalam persaingan antara berbagai alasan, sudah barang tentu berakhir dengan dipilihnya satu alternative. Satu alternatif yang dipilih inilah yang menjadi putusan untuk dikerjakan.
d. Momen terbentuknya kemauan.
Kalau seseorang sudah menetapkan satu putusan untuk dikerjakan, timbullah dorongan pada diri seseorang untuk bertindak dan melaksanakan putusan itu.
4. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
a. Motif intrinsik
Yang dimaksud dengan motif intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca, tidak perlu ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Kemudian kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya (misalnya kegiatan belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri. Sebagai contoh konkret seorang siswa itu belajar, karena betul-betul ingin mendapat pengetahuan, nilai atau keterampilan agar dapat berubah tingkah lakunya secara konstrukif, tidak karena tujuan yang lain-lain. Intrinsic motivations are interent in the learnig situations and meet pupil-needs and purposes.
Itulah sebabnya motivasi intrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri dan secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya. Seperti tadi dicontohkan bahwa seseorang belajar, memang benar-benar ingin mengetahui segala sesuatunya, bukan karena ingin pujian atau ganjaran.
Perlu diketahui bahwa siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu. Satu-satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang ingin dicapai ialah belajar, tanpa belajar tidak mungkin mendapat pengetahuan, tidak mungkin menjadi ahli. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan, kebutuhan yang berisikan keharsuan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar symbol dan seremonial.
b. Motif ekstrinsik
Motif ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya akan diadakan ujian, dengan harapan mendapatkan nilai baik, atau agar mendapat hadiah. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bergayut dengan esensi apa yang dilakukannya itu. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya akivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang secara mutlak berkait dengan aktivitas belajar.
Perlu ditegaskan, bukan berarti bahwa motivasi ekstrinsik ini tidak baik dan tidak penting. dalam kegiatan belajar-mengajar motivasi ini tetap penting dan diperlukan. Sebab kemungkinan besar keaadan siswa itu dinamis, berubah-ubah, dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik sebagai pendorong yang mendukung motivasi intrinsic yang melemah.
2.4 Bentuk dan Cara Menumbuhkan Motivasi
Di dalam kegiatan belajar –mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar.
Dalam hal ini perlu diketahui bahwa cara dan jenis menumbuhkan motivasi ada bermacam-macam. Tetapi untuk motivasi ekstrinsik kadang-kadang tepat dan kadang-kadang juga bisa kurang sesuai. Hal ini guru atau dosen hati-hati dalam menumbuhkan dan memberi motivasi bagi kegiatan belajar para anak didik. Sebab mungkin maksudnya memberikan motivasi tetapi justru tidak menguntungkan bagi perkembangan belajar siswa.
Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah.
1. Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai symbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar, yang utama justru untuk mencapai angka atau nilai yang baik. Sehingga siswa biasanya yang dikejar adalah nilai ulangan atau nilai-nilai yang baik pada raport.
Angka-angka yang baik itu bagi para siswa atau mahasiswa merupakan motivasi yang sangat kuat. Tetapi ada juga, bahkan banyak siswa bekerja atau belajar hanya ingin mengejar kenaikan kelas, naik kelas adalah hasil yang memuaskan meskipun nilai-nilainya sangat standar. Hal ini menunjukkan moitvasi yang dimilikinya kurang berbobot bila dibandingkan dengan siswa-siswa yang menginginkan angka yang baik. Namun demikian semua itu harus diingat oleh guru atau dosen bahwa pencapaian angka-angka seperti itu belum merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang bermakna. Oleh karena itu, langkah selanjutnya yang ditempuh oleh guru atau dosen adalah bagaimana cara memberikan angka-angka sehingga dapat dikaitkan dengan values yang terkandung di dalam setiap pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa sehingga tidak sekedar kognitif tetapi juga keterampilan dan afeksinya.
2. Hadiah
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi tetapi taklah selalu demikian. Karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak mungkin senang dan tidak berbakat untuk suatu pekerjaan. Sebagai contoh hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi seorang siswa yang tidak memiliki bakat menggambar.
3. Saingan atau kompetisi
Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individual maupun kelompok dapat meningkatkan pretsasi belajar siswa. Memang unsur persaingan ini banyak dimanfaatkan di dalam dunia industri atau perdangangan, tetapi juga sangat baik digunakan untuk menigkatkan kegiatan belajar siswa.
4. Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah symbol kebanggaan dan harga diri, begitu juga untuk siswa sebagai subjek belajar. Para siswa akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.
5. Memberi ulangan
Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu,, memberi ulangan itu juga merupakan sarana motivasi. Tetapi harus diingat oleh guru atau dosen, adalah jangan terlalu sering (misalnya setiap hari) karena bisa membosankan. Dalam hal ini guru harus juga terbuka, maksudnya kalau akan diadakan ulangan harus diberitahukan kepada siswanya.
6. Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.
7. Pujian
Apabila ada siswa yang sukses dan berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, maka perlu diberikan pujian. Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu, supaya pujian ini merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenagkan dan mempertinggi gairah belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.
8. Hukuman
Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.
9. Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik, bila dibandingkan segala kegiatan yang tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.
10. Minat
Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar itu akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Mengenai minat ini antara lain dapat dibangkitkan dengan cara sebagai berikut :
a. Membangkitkan adanya suatu kebutuhan
b. Menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau
c. Memberi kesan untuk mendapatkan hasil yang baik
d. Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar
11. Tujuan yang diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasakan sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.
Di samping bentuk-bentuk motivasi sebagaimana diuraikan sebelumnya, sudah barang tentu masih banyak bentuk dan cara yang bisa dimanfaatkan. Hanya yang penting bagi guru atau dosen adanya bermacam-macam motivasi itu dapat dikembangkan dan diarahkan untuk dapat melahirkan hasil belajar yang bermakna. Mungkin pada mulanya, karena ada sesuatu (bentuk motivasi) siswa itu rajin belajar, tetapi guru harus mampu melanjutkan dari tahap rajin belajai itu bisa diarahkan menjadi kegiatan yang bermakna, sehingga hasilnya pun akan bermakna bagi kehidupan siswa atau mahasiswa sebagai subjek belajar.
2.5 Teori yang Berkaitan dengan Motivasi
Pada hakekatnya, manusia melakukan aktivitas itu didorong oleh adanya faktor-faktor kebutuhan biologis, insting, unsur-unsur kejiwaan yang lain serta adanya pengaruh perkembangan budaya manusia. sebenarnya semua faktor-faktor itu tidak dapat dipisahkan dari soal kebutuhan, kebutuhan dalam arti luas, baik yang berifat biologis, maupun psikologis. Dengan demikian, dapatlah ditegaskan bahwa motivasi akan selalu berkaitan dengan kebutuhan. Karena seseorang akan terdorong melakukan sesuatu bila merasa ada hal-hal yang harus dipenuhinya.
Menurut Morgan dan ditulis kembali oleh S. Nasution, bahwa manusia hidup dengan memiliki berbagai kebutuhan.
1. Kebutuhan berbuat untuk suatu aktivitas
2. Kebutuhan untuk menyenangkan orang lain
3. Kebutuhan untuk mencapai hasil
4. Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan
Relevan dengan kebutuhan yang diungkapkan oleh Morgan, maka timbullah teori tentang motivasi. Teori ini lahir dan berkembang di kalangan para psikolog. Menurut ahli ilmu jiwa, dijelaskan bahwa dalam motivasi itu ada suatu hierarki, maksudnya motivasi itu ada tingkatan-tingkatannya, yakni dari bawah ke atas.
Dalam hal ini beberapa teori tentang motivasi yang selalu bergayut dengan soal kebutuhan, yaitu :
1. Kebutuhan fisiologis, seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat dan sebagainya.
2. Kebutuhan akan keamanan (security), yakni rasa aman, bebas dari rasa takut dan kecemasan.
3. Kebutuhan akan cinta dan kasih.
4. Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial dan lain-lain.
Di samping teori-teori yang ada, teori-teori lain yang perlu diketahui adalah :
1. Teori Insting
Menurut teori ini tindakan setiap diri manusia diasumsikan seperti tingkat jenis binatang. Tindakan manusia itu dikatakan selalu berkait dengan insting atau pembawaan. Dalam memberikan respons terhadap adanya kebutuhan seolah-olah tanpa dipelajari. Tokoh dari teori ini adalah Mc. Dougall
2. Teori Fisiologis
Teori ini juga disebut “Behavior Theories”, menurut teori ini manusia itu berakar pada usaha memenuhi kebutuhan organic dan kepuasan atau kebutuhan untuk kepentingan fisik. Dari teori inilah muncul perjuangan hidup, perjuangan untuk mempertahankan hidup, struggle for survival.
3. Teori Psikoanalitik
Teori ini mirip dengan teori insting, tetapi lebih ditekankan pada unsur-unsur kejiwaan yang ada pada diri manusia. bahwa setiap tindakan manusia karena adanya unsur pribadi manusia yakni iq dan ego. Tokoh dari teori ini adalah Freud.
2.6 Pengaruh Motivasi Terhadap Pencapaian Tujuan atau Prestasi Belajar
Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.
Berdasarkan pengertian itu, maka motivasi dapat dikatakan sebagai alasan mengapa seseorang melakukan aktivitas dan merupakan penggerak dalam kegiatan belajar serta menjadi penunjuk arah dalam pencapaian tujuan. Artinya, tidak akan ada yang terjadi apabila motivasi tidak ada pada diri manusia. Tokoh-tokoh pendidikan seperti Mc Clelland (1985), Bandura (1977), Bloom (1980), Wernes (1986), Fyas dan Maehr (1987) melakukan berbagai penelitian tenang peranan motivasi dalam belajar dan menemukan hasil yang menarik.
Sebagai contoh, dalam sudi yang dilakukan Fyas & Maehr (1987) di antara tiga faktor, yaitu : latar belakang keluarga, kondisi atau konteks sekolah dan motivasi, faktor yang terakhir merupakan predictor yang paling baik untuk prestasi belajar. Welberg dkk (1983) menyimpulkan bahwa motivasi mempunyai kontribusi antara 11 sampai 20 persen terhadap prestasi belajar. Studi yang dilakukan suciati (1990) menyimpulkan bahwa kontribusi motivasi sebesar 36 persen. Sedangkan MC Clelland menunjukkan bahwa motivasi berprestasi (achievement motivation) mempunyai kontribusi sampai 64 persen terhadap prestasi belajar.
Berdasarkan penemuan di atas kita dapat mempertimbangkan untuk melakukan intervensi dalam hal meningkatkan motivasi belajar mahasiswa.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa, keberhasilan seseorang dalam prestasi belajar tidak mutlak ditentukan oleh kemampuan intelegensinya yang tinggi tetapi motivasi yang kuat dapat memberikan kesuksesan kepada mahasiswa yang ber-IQ sedang, semakin kuat motivasi seseorang maka akan semakin besar peluang untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam prestasi belajar.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
motivasi merupakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu.
Ada tiga fungsi motivasi yaitu :
a. Mendorong manusia untuk berbuat
b. Menentukan arah perbuatan
c. Menyeleksi perbuatan
Macam-macam motivasi
a. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
b. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth & Marquis
c. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
d. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
Bentuk dan cara menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar :
a. Memberi angka
b. Hadiah
c. Saingan/kompetisi
d. Ego-involvement
e. Memberi ulangan
f. Pujian
g. Hukuman
h. Hasrat untuk belajar
i. Minat
j. Tujuan yang diakui
Teori yang berkaitan dengan motivasi
a. Dalam hal ini beberapa teori tentang motivasi yang selalu bergayut dengan soal kebutuhan, yaitu :
Kebutuhan fisiologis, seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat dan sebagainya.
Kebutuhan akan keamanan (security), yakni rasa aman, bebas dari rasa takut dan kecemasan.
Kebutuhan akan cinta dan kasih.
Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial dan lain-lain.
b. Di samping teori-teori yang ada, teori-teori lain yang perlu diketahui adalah :
Teori insting
Teori fisiologis
Teori psikoanalitik
Pengaruh motivasi terhadap pencapaian tujuan atau prestasi :
Maka motivasi dapat dikatakan sebagai alasan mengapa seseorang melakukan aktivitas dan merupakan penggerak dalam kegiatan belajar serta menjadi penunjuk arah dalam pencapaian tujuan. Artinya, tidak akan ada yang terjadi apabila motivasi tidak ada pada diri manusia.
Semakin kuat motivasi seseorang maka akan semakin besar peluang untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam prestasi belajar.
3.2 Saran
Setelah menarik kesimpulan, penyusun menyarankan kepada pembaca untuk dapat memotivasi dirinya sendiri untuk mencapai sesuatu yang dikehendaki. Begitu pula dengan orang tua dan guru/dosen, agar dapat memotivasi anak dan siswa/mahasiswanya untuk mencapai kesuksesan dalam meraih sesuatu.
DAFTAR PUSTAKA
Irawan, Prasetya, dkk. 1997. Teori Belajar, Motivasi, dan Keterampilan Mengajar. PAU-PPAI: Jakarta.
Sardiman. 2002. Intruksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
.. 2008. Instruksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Surjadi. 1989. Membuat Siswa Aktif Belajar. Bandung: Mandar Maju.
PENGARUH KUATNYA INTERAKSI TERHADAP PRESTASI SISWA
PENGARUH KUATNYA INTERAKSI TERHADAP PRESTASI SISWA
MAKALAH
(Disusun untuk memenuhi tugas akhir Bahasa Indonesia)
OLEH
S U P A R T O M O
211 408 294
PRODI PENDIDIKAN AKUNTANSI
JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2009
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena dengan rahmat, karunia, dan izin-Nyalah sehingga penyusunan makalah dengan judul “PENGARUH KUATNYA INTERAKSI TERHADAP PRESTASI SISWA” dapat penyusun selesaikan tepat pada waktunya meskipun terdapat banyak kesulitan dan hambatan namun, hal-hal tersebut tidak membuat penyusun pesimis untuk terus berusaha.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan karena pada hakekatnya manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat jauh dari kesempurnaan. Berdasarkan hal itu, tidak heran ketika panca indera penulispun memiliki keterbatasan dalam hal fungsi. Dengan menyadari hal itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi mendekatkan diri dengan kesempurnaan penulisan makalah-makalah berikutnya.
Penuh kerendahan hati, penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan penulisan makalah ini, karena tanpa bantuannya akan sangat pasti penulis mendapatkan masalah yang lebih rumit dan menghambat kelancaran penulisan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan mendapat Berkah dan Rahmat dari Allah SWT serta merupakan ibadah yang bermanfaat fiddin wal akhirah.
Gorontalo, Juni 2009
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Permasalahan
1.3 Tujuan Penyusunan Makalah
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Evaluasi
2.2 Fungsi Motivasi Dalam Belajar
2.3 Macam-Macam Motivasi
2.4 Bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi
2.5 Beberapa Teori yang Berhubungan Dengan Motivasi
2.6 Pengaruh Motivasi Terhadap Pencapaian Tujuan
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses belajar-mengajar dapat dipahami atau dijelaskan dengan menggunakan berbagai teori belajar. Di samping itu proses tersebut dapat pula dijelaskan dengan memperhatikan satu aspek yang penting, yaitu motivasi siswa.
Di dalam proses belajar-mengajar, dosen terkadang dirisaukan dengan adanya mahasiswa yang dinilai cerdas tetapi mempunyai prestasi yang sedang-sedang saja. Dalam interaksi di kelas dia kelihatan bosan dan lesu, sedikit sekali menggunakan pikirannya untuk memecahkan persoalan yang dikemukakan di kelas, apalagi secara aktif melibatkan diri dalam proses belajar-mengajar,
Gejala seperti ini sering terjadi. Salah satu cara memahaminya dengan analisis yang dikemukakan oleh Romiszowski (1984), bahwa kinerja atau performance yang rendah dapat disebabkan oleh berbagai factor yang berasal dari dalam dan luar mahasiswa.
Berikut dapat memperjelas yang dimaksud.
a. Belum menguasai pengetahuan/keterampilan.
b. Sifat atau struktur tugas yang sulit atau tidak menyenangkan.
c. Konsekwensi negative pelaksanaan suatu tugas.
d. Jarang berlatih menggunakan keterampilan tersebut.
Berdasarkan point-point di atas, seorang mahasiswa yang berprestasi rendah kemungkinan disebabkan :
1. Tidak dapat melakukan tugas (belajar), karena tidak mempunyai atau menguasai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan. (point a)
2. Tidak “mau” melakukan tugas tertentu, meskipun sebenarnya mempunyai kemampuan yang diperlukan. Hal ini disebabkan berbagai faktor, seperti topic yang tidak menarik, cara mengajar dosen yang idak jelas, atau karena khawatir dengan konsekwensi yang harus ditanggung apabila mengalami kegagalan. (point b.c.dan d)
Keberhasilan mahasiswa dipengaruhi oleh banyak faktor yang berasal dari dalam dan luar mahasiswa. Faktor luar misalnya fasilitas belajar, cara mengajar dosen, system pemberian umpan balik dan sebagainya. Faktor-faktor dari dalam mahasiswa mencakup kecerdasan, strategi belajar, motivasi dan sebagainya.
Melihat motivasi merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam mencari dan menambah kecerdasan mahasiswa maka motivasi akan dibahas seperlunya dalam makalah ini.
1.2 Permasalahan
Berdasarkan beberapa permasalahan, penyusun mengangkat materi mengenai motivasi dalam belajar, diantaranya :
Pengertian motivasi
Fungsi motivasi dalam belajar
Macam-macam motivasi
Bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi
Beberapa teori yang berhubungan dengan motivasi
Pengaruh motivasi terhadap pencapaian tujuan atau prestasi
1.3 Manfaat Penyusunan Makalah
• Untuk mengetahui apa pengertian motivasi
• Untuk mengetahui fungsi motivasi dalam belajar
• Untuk mengetahui macam-macam motivasi
• Untuk mengetahui bagaimana bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi
• Untuk mengetahui teori yang berhubungan dengan motives
• Untuk mengetahui apa pengaruh motivasi terhadap pencapaian tujuan atau prestasi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Motivasi
Istilah motivasi berasal dari bahasa Latin “movere” yang berarti “menggerakkan”. Berdasarkan pengertian ini makna motivasi menjadi berkembang. Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut.
Sedangkan Ames (1984) menjelaskan motivasi dari pandangan lain bahwa menurutnya, motivasi didefinisikan sebagai perspektif yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri dan lingkungannya.
Motivasi juga dapat dijelaskan sebagai “tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu” (Cropley, 1985). Dalam pengertian ini mahasiswa akan berusaha mencapai suatu tujuan karena dirangsang oleh manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh.
Dalam proses belajar motivasi mahasiswa tercermin melalui ketekunan yang tidak mudah patah untuk mencapai sukses, meskipun dihadang banyak kesulitan. Motivasi juga ditunjukkan melalui intensitas untuk kerja dalam melakukan suatu tugas.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Dikatakan “keseluruhan”, karena pada umumnya ada beberapa motif yang bersama-sama menggerakkan siswa untuk belajar. Motivasi belajar adalah faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi yang kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Ibaratnya seseorang itu menghadiri suatu ceramah, tetapi karena ia tidak tertarik pada materi yang diceramahkan, maka ia tidak akan mencamkan, apalagi mencatat isi ceramah tersebut. Seseorang tidak memiliki motivasi kecuali karena paksaan atau sekedar seremonial. Seorang siswa yang memiliki intelegensia cukup tinggi, boleh jadi gagal karena kekurangan motivasi. Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi yang tepat. Bergayat dengan ini maka kegagalan belajar siswa jangan begitu saja menyalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberi motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan kegiatan siswa untuk berbuat atau belajar. Jadi tugas guru, bagaimana mendorong para siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi.
2.2 Fungsi Motivasi Dalam Belajar
Serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu sebenarnya dilatarbelakangi oleh sesuatu atau yang secara umum dinamakan motivasi. Motivasi inilah yang mendorong mengapa mereka itu melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan.
Begitu juga untuk belajar sangat diperlukan adanya motivasi guna melahirkan dan mempertahankan semangat untuk belajar. “Motivation is an essential condition of learning”, hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi, motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa atau mahasiswa.
Perlu ditegaskan, bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan yang akan dicapai. Dengan demikian motivasi itu mempengaruhi adanya kegiatan.
Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi :
Mendorong manusia untuk berbuat
Jadi, motivasi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
Menentukan arah perbuatan
Artinya, motivasi mengarahkan ke mana tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan.
Menyeleksi perbuatan
Yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan dan serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.
Di samping tiga fungsi di atas, ada fungsi-fungsi lain. Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan pretasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
2.3 Macam-Macam Motivasi
Berbicara tentang macam atau jenis motivasi ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, motivasi atau motif-moif yang aktif itu sangat bervariasi.
1. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
a. Motif-motif bawaan
Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Sebagai contoh misalnya : dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan untuk bekerja, untuk beristirahat, dorongan seksual. Motif-motif ini sering kali disebut motif-motif yang disyaratkan secara biologis. Relevan dengan ini, maka Arden N. Frandsen memberi istilah jenis motif physiological drives.
b. Motif-motif yang dipelajari
Maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh : dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu di dalam masyarakat. Motif-motif ini sering kali disebut dengan motif-motif yang disyaratkan secara sosial. Sebab manusia hidup dalam lingkungan sosial dengan sesama manusia yang lain, sehingga motivasi itu terbentuk. Frandsen mengistilahkan dengan affiliative needs. Sebab justru dengan kemampuan berhubungan, kerja sama di dalam masyarakat tercapailah suatu kepuasan diri. Sehingga manusia perlu mengembangkan sifat-sifat ramah, kooperatif, membina hubungan baik dengan sesame, apalagi orang tua dan guru. Dalam kegiatan belajar-mengajar, hal ini dapat membantu dalam usaha mencapai prestasi.
Di samping itu Frandsen, masih menambahkan jenis-jenis motif sebagai berikut :
a. Cognitive Motives
Motif ini menunjuk pada gejala intrinsic, yakni menyangkut kepuasan individual. Kepuasan individual yang berada di dalam diri manusia dan biasanya berwujud proses dan produk mental. Jenis motif seperti ini adalah sangat primer dalam kegiatan belajar di sekolah, terutama yang berkaitan dengan pengembangan intelektual.
b. Self expression
Penampilan diri adalah sebagian dari perilaku manusia. yang penting kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi juga mampu membuat suatu kejadian. Untuk ini memang diperlukan kreativitas, penuh imajinasi, jadi dalam hal ini seseorang memiliki keinginan untuk aktualisasi diri.
c. Self enhancement
Melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang. Ketinggian dan kemajuan diri ini menjadi salah satu keinginan bagi setiap individu. Dalam belajar dapat diciptakan suasana kompetensi yang sehat bagi anak didik untuk mencapai suatu prestasi.
2. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis
a. Motif atau kebutuhan organis
Meliputi misalnya, kebutuhan untuk minum, makan, bernafas, seksual, berbuat, dan kebutuhan untuk beristirahat. Ini sesuai dengan jenis physiological drives dari Frandsen.
b. Motif-motif darurat
Yang termasuk dalam jenis ini antara lain : dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu. Jelasnya motivasi jenis ini timbul karena rangsangan dari luar.
c. Motif-motif objektif
Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motif-motif ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.
3. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis yakni motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah. Yang termasuk motivasi jasmaniah seperti misalnya : refleks, insting otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rohaniah adalah kemauan.
Soal kemauan itu pada setiap diri manusia terbentuk melalui empat momen.
a. Momen timbulnya alasan.
Sebagai contoh seorang pemuda giat berlatih olahraga untuk menghadapi suatu porseni di sekolahnya, tetapi disuruh ibunya untuk mengantarkan seorang tamu membeli tiket karena tamu itu mau kembali ke Jakarta. Si pemuda itu kemudian mengantarkan tamu tersebut. Dalam hal ini pemuda tadi timbul alasan baru untuk melakukan suatu kegiatan (kegiatan mengantar). Alasan baru itu bisa karena untuk menghormat tamu atau mungkin keinginan untuk tidak mengecewakan ibunya.
b. Momen pilih.
Momen pilih, maksudnya dalam keadaan pada waktu ada alternatif-alternatif yang mengakibatkan persaingan antara di antara alternatif atau alasan-alasan itu. Kemudian seorang menimbang-nimbang dari berbagai alternatif untuk kemudian menetukan pilihan alternatif yang akan dikerjakan.
c. Momen putusan.
Dalam persaingan antara berbagai alasan, sudah barang tentu berakhir dengan dipilihnya satu alternative. Satu alternatif yang dipilih inilah yang menjadi putusan untuk dikerjakan.
d. Momen terbentuknya kemauan.
Kalau seseorang sudah menetapkan satu putusan untuk dikerjakan, timbullah dorongan pada diri seseorang untuk bertindak dan melaksanakan putusan itu.
4. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
a. Motif intrinsik
Yang dimaksud dengan motif intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca, tidak perlu ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Kemudian kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya (misalnya kegiatan belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri. Sebagai contoh konkret seorang siswa itu belajar, karena betul-betul ingin mendapat pengetahuan, nilai atau keterampilan agar dapat berubah tingkah lakunya secara konstrukif, tidak karena tujuan yang lain-lain. Intrinsic motivations are interent in the learnig situations and meet pupil-needs and purposes.
Itulah sebabnya motivasi intrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri dan secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya. Seperti tadi dicontohkan bahwa seseorang belajar, memang benar-benar ingin mengetahui segala sesuatunya, bukan karena ingin pujian atau ganjaran.
Perlu diketahui bahwa siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu. Satu-satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang ingin dicapai ialah belajar, tanpa belajar tidak mungkin mendapat pengetahuan, tidak mungkin menjadi ahli. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan, kebutuhan yang berisikan keharsuan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar symbol dan seremonial.
b. Motif ekstrinsik
Motif ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya akan diadakan ujian, dengan harapan mendapatkan nilai baik, atau agar mendapat hadiah. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bergayut dengan esensi apa yang dilakukannya itu. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya akivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang secara mutlak berkait dengan aktivitas belajar.
Perlu ditegaskan, bukan berarti bahwa motivasi ekstrinsik ini tidak baik dan tidak penting. dalam kegiatan belajar-mengajar motivasi ini tetap penting dan diperlukan. Sebab kemungkinan besar keaadan siswa itu dinamis, berubah-ubah, dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik sebagai pendorong yang mendukung motivasi intrinsic yang melemah.
2.4 Bentuk dan Cara Menumbuhkan Motivasi
Di dalam kegiatan belajar –mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar.
Dalam hal ini perlu diketahui bahwa cara dan jenis menumbuhkan motivasi ada bermacam-macam. Tetapi untuk motivasi ekstrinsik kadang-kadang tepat dan kadang-kadang juga bisa kurang sesuai. Hal ini guru atau dosen hati-hati dalam menumbuhkan dan memberi motivasi bagi kegiatan belajar para anak didik. Sebab mungkin maksudnya memberikan motivasi tetapi justru tidak menguntungkan bagi perkembangan belajar siswa.
Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah.
1. Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai symbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar, yang utama justru untuk mencapai angka atau nilai yang baik. Sehingga siswa biasanya yang dikejar adalah nilai ulangan atau nilai-nilai yang baik pada raport.
Angka-angka yang baik itu bagi para siswa atau mahasiswa merupakan motivasi yang sangat kuat. Tetapi ada juga, bahkan banyak siswa bekerja atau belajar hanya ingin mengejar kenaikan kelas, naik kelas adalah hasil yang memuaskan meskipun nilai-nilainya sangat standar. Hal ini menunjukkan moitvasi yang dimilikinya kurang berbobot bila dibandingkan dengan siswa-siswa yang menginginkan angka yang baik. Namun demikian semua itu harus diingat oleh guru atau dosen bahwa pencapaian angka-angka seperti itu belum merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang bermakna. Oleh karena itu, langkah selanjutnya yang ditempuh oleh guru atau dosen adalah bagaimana cara memberikan angka-angka sehingga dapat dikaitkan dengan values yang terkandung di dalam setiap pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa sehingga tidak sekedar kognitif tetapi juga keterampilan dan afeksinya.
2. Hadiah
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi tetapi taklah selalu demikian. Karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak mungkin senang dan tidak berbakat untuk suatu pekerjaan. Sebagai contoh hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi seorang siswa yang tidak memiliki bakat menggambar.
3. Saingan atau kompetisi
Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individual maupun kelompok dapat meningkatkan pretsasi belajar siswa. Memang unsur persaingan ini banyak dimanfaatkan di dalam dunia industri atau perdangangan, tetapi juga sangat baik digunakan untuk menigkatkan kegiatan belajar siswa.
4. Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah symbol kebanggaan dan harga diri, begitu juga untuk siswa sebagai subjek belajar. Para siswa akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.
5. Memberi ulangan
Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu,, memberi ulangan itu juga merupakan sarana motivasi. Tetapi harus diingat oleh guru atau dosen, adalah jangan terlalu sering (misalnya setiap hari) karena bisa membosankan. Dalam hal ini guru harus juga terbuka, maksudnya kalau akan diadakan ulangan harus diberitahukan kepada siswanya.
6. Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.
7. Pujian
Apabila ada siswa yang sukses dan berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, maka perlu diberikan pujian. Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu, supaya pujian ini merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenagkan dan mempertinggi gairah belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.
8. Hukuman
Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.
9. Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik, bila dibandingkan segala kegiatan yang tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.
10. Minat
Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar itu akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Mengenai minat ini antara lain dapat dibangkitkan dengan cara sebagai berikut :
a. Membangkitkan adanya suatu kebutuhan
b. Menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau
c. Memberi kesan untuk mendapatkan hasil yang baik
d. Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar
11. Tujuan yang diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasakan sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.
Di samping bentuk-bentuk motivasi sebagaimana diuraikan sebelumnya, sudah barang tentu masih banyak bentuk dan cara yang bisa dimanfaatkan. Hanya yang penting bagi guru atau dosen adanya bermacam-macam motivasi itu dapat dikembangkan dan diarahkan untuk dapat melahirkan hasil belajar yang bermakna. Mungkin pada mulanya, karena ada sesuatu (bentuk motivasi) siswa itu rajin belajar, tetapi guru harus mampu melanjutkan dari tahap rajin belajai itu bisa diarahkan menjadi kegiatan yang bermakna, sehingga hasilnya pun akan bermakna bagi kehidupan siswa atau mahasiswa sebagai subjek belajar.
2.5 Teori yang Berkaitan dengan Motivasi
Pada hakekatnya, manusia melakukan aktivitas itu didorong oleh adanya faktor-faktor kebutuhan biologis, insting, unsur-unsur kejiwaan yang lain serta adanya pengaruh perkembangan budaya manusia. sebenarnya semua faktor-faktor itu tidak dapat dipisahkan dari soal kebutuhan, kebutuhan dalam arti luas, baik yang berifat biologis, maupun psikologis. Dengan demikian, dapatlah ditegaskan bahwa motivasi akan selalu berkaitan dengan kebutuhan. Karena seseorang akan terdorong melakukan sesuatu bila merasa ada hal-hal yang harus dipenuhinya.
Menurut Morgan dan ditulis kembali oleh S. Nasution, bahwa manusia hidup dengan memiliki berbagai kebutuhan.
1. Kebutuhan berbuat untuk suatu aktivitas
2. Kebutuhan untuk menyenangkan orang lain
3. Kebutuhan untuk mencapai hasil
4. Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan
Relevan dengan kebutuhan yang diungkapkan oleh Morgan, maka timbullah teori tentang motivasi. Teori ini lahir dan berkembang di kalangan para psikolog. Menurut ahli ilmu jiwa, dijelaskan bahwa dalam motivasi itu ada suatu hierarki, maksudnya motivasi itu ada tingkatan-tingkatannya, yakni dari bawah ke atas.
Dalam hal ini beberapa teori tentang motivasi yang selalu bergayut dengan soal kebutuhan, yaitu :
1. Kebutuhan fisiologis, seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat dan sebagainya.
2. Kebutuhan akan keamanan (security), yakni rasa aman, bebas dari rasa takut dan kecemasan.
3. Kebutuhan akan cinta dan kasih.
4. Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial dan lain-lain.
Di samping teori-teori yang ada, teori-teori lain yang perlu diketahui adalah :
1. Teori Insting
Menurut teori ini tindakan setiap diri manusia diasumsikan seperti tingkat jenis binatang. Tindakan manusia itu dikatakan selalu berkait dengan insting atau pembawaan. Dalam memberikan respons terhadap adanya kebutuhan seolah-olah tanpa dipelajari. Tokoh dari teori ini adalah Mc. Dougall
2. Teori Fisiologis
Teori ini juga disebut “Behavior Theories”, menurut teori ini manusia itu berakar pada usaha memenuhi kebutuhan organic dan kepuasan atau kebutuhan untuk kepentingan fisik. Dari teori inilah muncul perjuangan hidup, perjuangan untuk mempertahankan hidup, struggle for survival.
3. Teori Psikoanalitik
Teori ini mirip dengan teori insting, tetapi lebih ditekankan pada unsur-unsur kejiwaan yang ada pada diri manusia. bahwa setiap tindakan manusia karena adanya unsur pribadi manusia yakni iq dan ego. Tokoh dari teori ini adalah Freud.
2.6 Pengaruh Motivasi Terhadap Pencapaian Tujuan atau Prestasi Belajar
Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.
Berdasarkan pengertian itu, maka motivasi dapat dikatakan sebagai alasan mengapa seseorang melakukan aktivitas dan merupakan penggerak dalam kegiatan belajar serta menjadi penunjuk arah dalam pencapaian tujuan. Artinya, tidak akan ada yang terjadi apabila motivasi tidak ada pada diri manusia. Tokoh-tokoh pendidikan seperti Mc Clelland (1985), Bandura (1977), Bloom (1980), Wernes (1986), Fyas dan Maehr (1987) melakukan berbagai penelitian tenang peranan motivasi dalam belajar dan menemukan hasil yang menarik.
Sebagai contoh, dalam sudi yang dilakukan Fyas & Maehr (1987) di antara tiga faktor, yaitu : latar belakang keluarga, kondisi atau konteks sekolah dan motivasi, faktor yang terakhir merupakan predictor yang paling baik untuk prestasi belajar. Welberg dkk (1983) menyimpulkan bahwa motivasi mempunyai kontribusi antara 11 sampai 20 persen terhadap prestasi belajar. Studi yang dilakukan suciati (1990) menyimpulkan bahwa kontribusi motivasi sebesar 36 persen. Sedangkan MC Clelland menunjukkan bahwa motivasi berprestasi (achievement motivation) mempunyai kontribusi sampai 64 persen terhadap prestasi belajar.
Berdasarkan penemuan di atas kita dapat mempertimbangkan untuk melakukan intervensi dalam hal meningkatkan motivasi belajar mahasiswa.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa, keberhasilan seseorang dalam prestasi belajar tidak mutlak ditentukan oleh kemampuan intelegensinya yang tinggi tetapi motivasi yang kuat dapat memberikan kesuksesan kepada mahasiswa yang ber-IQ sedang, semakin kuat motivasi seseorang maka akan semakin besar peluang untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam prestasi belajar.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
motivasi merupakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu.
Ada tiga fungsi motivasi yaitu :
a. Mendorong manusia untuk berbuat
b. Menentukan arah perbuatan
c. Menyeleksi perbuatan
Macam-macam motivasi
a. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
b. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth & Marquis
c. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
d. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
Bentuk dan cara menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar :
a. Memberi angka
b. Hadiah
c. Saingan/kompetisi
d. Ego-involvement
e. Memberi ulangan
f. Pujian
g. Hukuman
h. Hasrat untuk belajar
i. Minat
j. Tujuan yang diakui
Teori yang berkaitan dengan motivasi
a. Dalam hal ini beberapa teori tentang motivasi yang selalu bergayut dengan soal kebutuhan, yaitu :
Kebutuhan fisiologis, seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat dan sebagainya.
Kebutuhan akan keamanan (security), yakni rasa aman, bebas dari rasa takut dan kecemasan.
Kebutuhan akan cinta dan kasih.
Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial dan lain-lain.
b. Di samping teori-teori yang ada, teori-teori lain yang perlu diketahui adalah :
Teori insting
Teori fisiologis
Teori psikoanalitik
Pengaruh motivasi terhadap pencapaian tujuan atau prestasi :
Maka motivasi dapat dikatakan sebagai alasan mengapa seseorang melakukan aktivitas dan merupakan penggerak dalam kegiatan belajar serta menjadi penunjuk arah dalam pencapaian tujuan. Artinya, tidak akan ada yang terjadi apabila motivasi tidak ada pada diri manusia.
Semakin kuat motivasi seseorang maka akan semakin besar peluang untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam prestasi belajar.
3.2 Saran
Setelah menarik kesimpulan, penyusun menyarankan kepada pembaca untuk dapat memotivasi dirinya sendiri untuk mencapai sesuatu yang dikehendaki. Begitu pula dengan orang tua dan guru/dosen, agar dapat memotivasi anak dan siswa/mahasiswanya untuk mencapai kesuksesan dalam meraih sesuatu.
DAFTAR PUSTAKA
Irawan, Prasetya, dkk. 1997. Teori Belajar, Motivasi, dan Keterampilan Mengajar. PAU-PPAI: Jakarta.
Sardiman. 2002. Intruksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
.. 2008. Instruksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Surjadi. 1989. Membuat Siswa Aktif Belajar. Bandung: Mandar Maju.
MAKALAH
(Disusun untuk memenuhi tugas akhir Bahasa Indonesia)
OLEH
S U P A R T O M O
211 408 294
PRODI PENDIDIKAN AKUNTANSI
JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2009
KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena dengan rahmat, karunia, dan izin-Nyalah sehingga penyusunan makalah dengan judul “PENGARUH KUATNYA INTERAKSI TERHADAP PRESTASI SISWA” dapat penyusun selesaikan tepat pada waktunya meskipun terdapat banyak kesulitan dan hambatan namun, hal-hal tersebut tidak membuat penyusun pesimis untuk terus berusaha.
Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kekurangan dan ketidaksempurnaan karena pada hakekatnya manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sangat jauh dari kesempurnaan. Berdasarkan hal itu, tidak heran ketika panca indera penulispun memiliki keterbatasan dalam hal fungsi. Dengan menyadari hal itu, penyusun mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi mendekatkan diri dengan kesempurnaan penulisan makalah-makalah berikutnya.
Penuh kerendahan hati, penyusun mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu dalam penyusunan dan penulisan makalah ini, karena tanpa bantuannya akan sangat pasti penulis mendapatkan masalah yang lebih rumit dan menghambat kelancaran penulisan makalah ini.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua dan mendapat Berkah dan Rahmat dari Allah SWT serta merupakan ibadah yang bermanfaat fiddin wal akhirah.
Gorontalo, Juni 2009
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Permasalahan
1.3 Tujuan Penyusunan Makalah
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Evaluasi
2.2 Fungsi Motivasi Dalam Belajar
2.3 Macam-Macam Motivasi
2.4 Bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi
2.5 Beberapa Teori yang Berhubungan Dengan Motivasi
2.6 Pengaruh Motivasi Terhadap Pencapaian Tujuan
BAB III PENUTUP
3.1 Simpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses belajar-mengajar dapat dipahami atau dijelaskan dengan menggunakan berbagai teori belajar. Di samping itu proses tersebut dapat pula dijelaskan dengan memperhatikan satu aspek yang penting, yaitu motivasi siswa.
Di dalam proses belajar-mengajar, dosen terkadang dirisaukan dengan adanya mahasiswa yang dinilai cerdas tetapi mempunyai prestasi yang sedang-sedang saja. Dalam interaksi di kelas dia kelihatan bosan dan lesu, sedikit sekali menggunakan pikirannya untuk memecahkan persoalan yang dikemukakan di kelas, apalagi secara aktif melibatkan diri dalam proses belajar-mengajar,
Gejala seperti ini sering terjadi. Salah satu cara memahaminya dengan analisis yang dikemukakan oleh Romiszowski (1984), bahwa kinerja atau performance yang rendah dapat disebabkan oleh berbagai factor yang berasal dari dalam dan luar mahasiswa.
Berikut dapat memperjelas yang dimaksud.
a. Belum menguasai pengetahuan/keterampilan.
b. Sifat atau struktur tugas yang sulit atau tidak menyenangkan.
c. Konsekwensi negative pelaksanaan suatu tugas.
d. Jarang berlatih menggunakan keterampilan tersebut.
Berdasarkan point-point di atas, seorang mahasiswa yang berprestasi rendah kemungkinan disebabkan :
1. Tidak dapat melakukan tugas (belajar), karena tidak mempunyai atau menguasai pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan. (point a)
2. Tidak “mau” melakukan tugas tertentu, meskipun sebenarnya mempunyai kemampuan yang diperlukan. Hal ini disebabkan berbagai faktor, seperti topic yang tidak menarik, cara mengajar dosen yang idak jelas, atau karena khawatir dengan konsekwensi yang harus ditanggung apabila mengalami kegagalan. (point b.c.dan d)
Keberhasilan mahasiswa dipengaruhi oleh banyak faktor yang berasal dari dalam dan luar mahasiswa. Faktor luar misalnya fasilitas belajar, cara mengajar dosen, system pemberian umpan balik dan sebagainya. Faktor-faktor dari dalam mahasiswa mencakup kecerdasan, strategi belajar, motivasi dan sebagainya.
Melihat motivasi merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam mencari dan menambah kecerdasan mahasiswa maka motivasi akan dibahas seperlunya dalam makalah ini.
1.2 Permasalahan
Berdasarkan beberapa permasalahan, penyusun mengangkat materi mengenai motivasi dalam belajar, diantaranya :
Pengertian motivasi
Fungsi motivasi dalam belajar
Macam-macam motivasi
Bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi
Beberapa teori yang berhubungan dengan motivasi
Pengaruh motivasi terhadap pencapaian tujuan atau prestasi
1.3 Manfaat Penyusunan Makalah
• Untuk mengetahui apa pengertian motivasi
• Untuk mengetahui fungsi motivasi dalam belajar
• Untuk mengetahui macam-macam motivasi
• Untuk mengetahui bagaimana bentuk dan cara-cara untuk menumbuhkan motivasi
• Untuk mengetahui teori yang berhubungan dengan motives
• Untuk mengetahui apa pengaruh motivasi terhadap pencapaian tujuan atau prestasi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Motivasi
Istilah motivasi berasal dari bahasa Latin “movere” yang berarti “menggerakkan”. Berdasarkan pengertian ini makna motivasi menjadi berkembang. Wlodkowski (1985) menjelaskan motivasi sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu, dan yang memberi arah dan ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut.
Sedangkan Ames (1984) menjelaskan motivasi dari pandangan lain bahwa menurutnya, motivasi didefinisikan sebagai perspektif yang dimiliki seseorang mengenai dirinya sendiri dan lingkungannya.
Motivasi juga dapat dijelaskan sebagai “tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu” (Cropley, 1985). Dalam pengertian ini mahasiswa akan berusaha mencapai suatu tujuan karena dirangsang oleh manfaat atau keuntungan yang akan diperoleh.
Dalam proses belajar motivasi mahasiswa tercermin melalui ketekunan yang tidak mudah patah untuk mencapai sukses, meskipun dihadang banyak kesulitan. Motivasi juga ditunjukkan melalui intensitas untuk kerja dalam melakukan suatu tugas.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu. Jadi motivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu tumbuh di dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai. Dikatakan “keseluruhan”, karena pada umumnya ada beberapa motif yang bersama-sama menggerakkan siswa untuk belajar. Motivasi belajar adalah faktor psikis yang bersifat non-intelektual. Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar. Siswa yang memiliki motivasi yang kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Ibaratnya seseorang itu menghadiri suatu ceramah, tetapi karena ia tidak tertarik pada materi yang diceramahkan, maka ia tidak akan mencamkan, apalagi mencatat isi ceramah tersebut. Seseorang tidak memiliki motivasi kecuali karena paksaan atau sekedar seremonial. Seorang siswa yang memiliki intelegensia cukup tinggi, boleh jadi gagal karena kekurangan motivasi. Hasil belajar akan optimal kalau ada motivasi yang tepat. Bergayat dengan ini maka kegagalan belajar siswa jangan begitu saja menyalahkan pihak siswa, sebab mungkin saja guru tidak berhasil dalam memberi motivasi yang mampu membangkitkan semangat dan kegiatan siswa untuk berbuat atau belajar. Jadi tugas guru, bagaimana mendorong para siswa agar pada dirinya tumbuh motivasi.
2.2 Fungsi Motivasi Dalam Belajar
Serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu sebenarnya dilatarbelakangi oleh sesuatu atau yang secara umum dinamakan motivasi. Motivasi inilah yang mendorong mengapa mereka itu melakukan suatu kegiatan atau pekerjaan.
Begitu juga untuk belajar sangat diperlukan adanya motivasi guna melahirkan dan mempertahankan semangat untuk belajar. “Motivation is an essential condition of learning”, hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi. Makin tepat motivasi yang diberikan, akan makin berhasil pula pelajaran itu. Jadi, motivasi akan senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi para siswa atau mahasiswa.
Perlu ditegaskan, bahwa motivasi bertalian dengan suatu tujuan yang akan dicapai. Dengan demikian motivasi itu mempengaruhi adanya kegiatan.
Sehubungan dengan hal tersebut ada tiga fungsi motivasi :
Mendorong manusia untuk berbuat
Jadi, motivasi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan motor penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
Menentukan arah perbuatan
Artinya, motivasi mengarahkan ke mana tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuan.
Menyeleksi perbuatan
Yakni menentukan perbuatan-perbuatan apa yang harus dikerjakan dan serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut. Seorang siswa yang akan menghadapi ujian dengan harapan dapat lulus, tentu akan melakukan kegiatan belajar dan tidak akan menghabiskan waktunya untuk bermain kartu atau membaca komik, sebab tidak serasi dengan tujuan.
Di samping tiga fungsi di atas, ada fungsi-fungsi lain. Motivasi dapat berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Seseorang melakukan suatu usaha karena adanya motivasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik. Dengan kata lain bahwa dengan adanya usaha yang tekun dan terutama didasari adanya motivasi, maka seseorang yang belajar itu akan dapat melahirkan pretasi yang baik. Intensitas motivasi seorang siswa akan sangat menentukan tingkat pencapaian prestasi belajarnya.
2.3 Macam-Macam Motivasi
Berbicara tentang macam atau jenis motivasi ini dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Dengan demikian, motivasi atau motif-moif yang aktif itu sangat bervariasi.
1. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
a. Motif-motif bawaan
Yang dimaksud dengan motif bawaan adalah motif yang dibawa sejak lahir, jadi motivasi itu ada tanpa dipelajari. Sebagai contoh misalnya : dorongan untuk makan, dorongan untuk minum, dorongan untuk bekerja, untuk beristirahat, dorongan seksual. Motif-motif ini sering kali disebut motif-motif yang disyaratkan secara biologis. Relevan dengan ini, maka Arden N. Frandsen memberi istilah jenis motif physiological drives.
b. Motif-motif yang dipelajari
Maksudnya motif-motif yang timbul karena dipelajari. Sebagai contoh : dorongan untuk belajar suatu cabang ilmu pengetahuan, dorongan untuk mengajar sesuatu di dalam masyarakat. Motif-motif ini sering kali disebut dengan motif-motif yang disyaratkan secara sosial. Sebab manusia hidup dalam lingkungan sosial dengan sesama manusia yang lain, sehingga motivasi itu terbentuk. Frandsen mengistilahkan dengan affiliative needs. Sebab justru dengan kemampuan berhubungan, kerja sama di dalam masyarakat tercapailah suatu kepuasan diri. Sehingga manusia perlu mengembangkan sifat-sifat ramah, kooperatif, membina hubungan baik dengan sesame, apalagi orang tua dan guru. Dalam kegiatan belajar-mengajar, hal ini dapat membantu dalam usaha mencapai prestasi.
Di samping itu Frandsen, masih menambahkan jenis-jenis motif sebagai berikut :
a. Cognitive Motives
Motif ini menunjuk pada gejala intrinsic, yakni menyangkut kepuasan individual. Kepuasan individual yang berada di dalam diri manusia dan biasanya berwujud proses dan produk mental. Jenis motif seperti ini adalah sangat primer dalam kegiatan belajar di sekolah, terutama yang berkaitan dengan pengembangan intelektual.
b. Self expression
Penampilan diri adalah sebagian dari perilaku manusia. yang penting kebutuhan individu itu tidak sekedar tahu mengapa dan bagaimana sesuatu itu terjadi, tetapi juga mampu membuat suatu kejadian. Untuk ini memang diperlukan kreativitas, penuh imajinasi, jadi dalam hal ini seseorang memiliki keinginan untuk aktualisasi diri.
c. Self enhancement
Melalui aktualisasi diri dan pengembangan kompetensi akan meningkatkan kemajuan diri seseorang. Ketinggian dan kemajuan diri ini menjadi salah satu keinginan bagi setiap individu. Dalam belajar dapat diciptakan suasana kompetensi yang sehat bagi anak didik untuk mencapai suatu prestasi.
2. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth dan Marquis
a. Motif atau kebutuhan organis
Meliputi misalnya, kebutuhan untuk minum, makan, bernafas, seksual, berbuat, dan kebutuhan untuk beristirahat. Ini sesuai dengan jenis physiological drives dari Frandsen.
b. Motif-motif darurat
Yang termasuk dalam jenis ini antara lain : dorongan untuk menyelamatkan diri, dorongan untuk membalas, untuk berusaha, untuk memburu. Jelasnya motivasi jenis ini timbul karena rangsangan dari luar.
c. Motif-motif objektif
Dalam hal ini menyangkut kebutuhan untuk melakukan eksplorasi, melakukan manipulasi, untuk menaruh minat. Motif-motif ini muncul karena dorongan untuk dapat menghadapi dunia luar secara efektif.
3. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
Ada beberapa ahli yang menggolongkan jenis motivasi itu menjadi dua jenis yakni motivasi jasmaniah dan motivasi rohaniah. Yang termasuk motivasi jasmaniah seperti misalnya : refleks, insting otomatis, nafsu. Sedangkan yang termasuk motivasi rohaniah adalah kemauan.
Soal kemauan itu pada setiap diri manusia terbentuk melalui empat momen.
a. Momen timbulnya alasan.
Sebagai contoh seorang pemuda giat berlatih olahraga untuk menghadapi suatu porseni di sekolahnya, tetapi disuruh ibunya untuk mengantarkan seorang tamu membeli tiket karena tamu itu mau kembali ke Jakarta. Si pemuda itu kemudian mengantarkan tamu tersebut. Dalam hal ini pemuda tadi timbul alasan baru untuk melakukan suatu kegiatan (kegiatan mengantar). Alasan baru itu bisa karena untuk menghormat tamu atau mungkin keinginan untuk tidak mengecewakan ibunya.
b. Momen pilih.
Momen pilih, maksudnya dalam keadaan pada waktu ada alternatif-alternatif yang mengakibatkan persaingan antara di antara alternatif atau alasan-alasan itu. Kemudian seorang menimbang-nimbang dari berbagai alternatif untuk kemudian menetukan pilihan alternatif yang akan dikerjakan.
c. Momen putusan.
Dalam persaingan antara berbagai alasan, sudah barang tentu berakhir dengan dipilihnya satu alternative. Satu alternatif yang dipilih inilah yang menjadi putusan untuk dikerjakan.
d. Momen terbentuknya kemauan.
Kalau seseorang sudah menetapkan satu putusan untuk dikerjakan, timbullah dorongan pada diri seseorang untuk bertindak dan melaksanakan putusan itu.
4. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
a. Motif intrinsik
Yang dimaksud dengan motif intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Sebagai contoh seseorang yang senang membaca, tidak perlu ada yang menyuruh atau mendorongnya, ia sudah rajin mencari buku-buku untuk dibacanya. Kemudian kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya (misalnya kegiatan belajar), maka yang dimaksud dengan motivasi intrinsik ini adalah ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam perbuatan belajar itu sendiri. Sebagai contoh konkret seorang siswa itu belajar, karena betul-betul ingin mendapat pengetahuan, nilai atau keterampilan agar dapat berubah tingkah lakunya secara konstrukif, tidak karena tujuan yang lain-lain. Intrinsic motivations are interent in the learnig situations and meet pupil-needs and purposes.
Itulah sebabnya motivasi intrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan dari dalam diri dan secara mutlak berkait dengan aktivitas belajarnya. Seperti tadi dicontohkan bahwa seseorang belajar, memang benar-benar ingin mengetahui segala sesuatunya, bukan karena ingin pujian atau ganjaran.
Perlu diketahui bahwa siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi orang yang terdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu. Satu-satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang ingin dicapai ialah belajar, tanpa belajar tidak mungkin mendapat pengetahuan, tidak mungkin menjadi ahli. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan, kebutuhan yang berisikan keharsuan untuk menjadi orang yang terdidik dan berpengetahuan. Jadi memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar symbol dan seremonial.
b. Motif ekstrinsik
Motif ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena adanya perangsang dari luar. Sebagai contoh seseorang itu belajar, karena tahu besok paginya akan diadakan ujian, dengan harapan mendapatkan nilai baik, atau agar mendapat hadiah. Jadi kalau dilihat dari segi tujuan kegiatan yang dilakukannya, tidak secara langsung bergayut dengan esensi apa yang dilakukannya itu. Oleh karena itu, motivasi ekstrinsik dapat juga dikatakan sebagai bentuk motivasi yang di dalamnya akivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan dorongan dari luar yang secara mutlak berkait dengan aktivitas belajar.
Perlu ditegaskan, bukan berarti bahwa motivasi ekstrinsik ini tidak baik dan tidak penting. dalam kegiatan belajar-mengajar motivasi ini tetap penting dan diperlukan. Sebab kemungkinan besar keaadan siswa itu dinamis, berubah-ubah, dan juga mungkin komponen-komponen lain dalam proses belajar-mengajar ada yang kurang menarik bagi siswa, sehingga diperlukan motivasi ekstrinsik sebagai pendorong yang mendukung motivasi intrinsic yang melemah.
2.4 Bentuk dan Cara Menumbuhkan Motivasi
Di dalam kegiatan belajar –mengajar peranan motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik sangat diperlukan. Dengan motivasi pelajar dapat mengembangkan aktivitas dan inisiatif, dapat mengarahkan dan memelihara ketekunan dalam melakukan kegiatan belajar.
Dalam hal ini perlu diketahui bahwa cara dan jenis menumbuhkan motivasi ada bermacam-macam. Tetapi untuk motivasi ekstrinsik kadang-kadang tepat dan kadang-kadang juga bisa kurang sesuai. Hal ini guru atau dosen hati-hati dalam menumbuhkan dan memberi motivasi bagi kegiatan belajar para anak didik. Sebab mungkin maksudnya memberikan motivasi tetapi justru tidak menguntungkan bagi perkembangan belajar siswa.
Ada beberapa bentuk dan cara untuk menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar di sekolah.
1. Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai symbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa belajar, yang utama justru untuk mencapai angka atau nilai yang baik. Sehingga siswa biasanya yang dikejar adalah nilai ulangan atau nilai-nilai yang baik pada raport.
Angka-angka yang baik itu bagi para siswa atau mahasiswa merupakan motivasi yang sangat kuat. Tetapi ada juga, bahkan banyak siswa bekerja atau belajar hanya ingin mengejar kenaikan kelas, naik kelas adalah hasil yang memuaskan meskipun nilai-nilainya sangat standar. Hal ini menunjukkan moitvasi yang dimilikinya kurang berbobot bila dibandingkan dengan siswa-siswa yang menginginkan angka yang baik. Namun demikian semua itu harus diingat oleh guru atau dosen bahwa pencapaian angka-angka seperti itu belum merupakan hasil belajar yang sejati, hasil belajar yang bermakna. Oleh karena itu, langkah selanjutnya yang ditempuh oleh guru atau dosen adalah bagaimana cara memberikan angka-angka sehingga dapat dikaitkan dengan values yang terkandung di dalam setiap pengetahuan yang diajarkan kepada para siswa sehingga tidak sekedar kognitif tetapi juga keterampilan dan afeksinya.
2. Hadiah
Hadiah dapat juga dikatakan sebagai motivasi tetapi taklah selalu demikian. Karena hadiah untuk suatu pekerjaan, mungkin tidak akan menarik bagi seseorang yang tidak mungkin senang dan tidak berbakat untuk suatu pekerjaan. Sebagai contoh hadiah yang diberikan untuk gambar yang terbaik mungkin tidak akan menarik bagi seorang siswa yang tidak memiliki bakat menggambar.
3. Saingan atau kompetisi
Saingan atau kompetisi dapat digunakan sebagai alat motivasi untuk mendorong belajar siswa. Persaingan, baik persaingan individual maupun kelompok dapat meningkatkan pretsasi belajar siswa. Memang unsur persaingan ini banyak dimanfaatkan di dalam dunia industri atau perdangangan, tetapi juga sangat baik digunakan untuk menigkatkan kegiatan belajar siswa.
4. Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras dengan mempertaruhkan harga diri, adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. seseorang akan berusaha dengan segenap tenaga untuk mencapai prestasi yang baik dan menjaga harga dirinya. Penyelesaian tugas dengan baik adalah symbol kebanggaan dan harga diri, begitu juga untuk siswa sebagai subjek belajar. Para siswa akan belajar dengan keras bisa jadi karena harga dirinya.
5. Memberi ulangan
Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan ada ulangan. Oleh karena itu,, memberi ulangan itu juga merupakan sarana motivasi. Tetapi harus diingat oleh guru atau dosen, adalah jangan terlalu sering (misalnya setiap hari) karena bisa membosankan. Dalam hal ini guru harus juga terbuka, maksudnya kalau akan diadakan ulangan harus diberitahukan kepada siswanya.
6. Mengetahui hasil
Dengan mengetahui hasil pekerjaan, apalagi kalau terjadi kemajuan, akan mendorong siswa untuk lebih giat belajar. Semakin mengetahui bahwa grafik hasil belajar meningkat, maka ada motivasi pada diri siswa untuk terus belajar, dengan suatu harapan hasilnya terus meningkat.
7. Pujian
Apabila ada siswa yang sukses dan berhasil menyelesaikan tugas dengan baik, maka perlu diberikan pujian. Pujian ini adalah bentuk reinforcement yang positif dan sekaligus merupakan motivasi yang baik. Oleh karena itu, supaya pujian ini merupakan motivasi, pemberiannya harus tepat. Dengan pujian yang tepat akan memupuk suasana yang menyenagkan dan mempertinggi gairah belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.
8. Hukuman
Hukuman sebagai reinforcement yang negatif tetapi kalau diberikan secara tepat dan bijak bisa menjadi alat motivasi.
9. Hasrat untuk belajar
Hasrat untuk belajar, berarti ada unsur kesengajaan, ada maksud untuk belajar. Hal ini akan lebih baik, bila dibandingkan segala kegiatan yang tanpa maksud. Hasrat untuk belajar berarti pada diri anak didik itu memang ada motivasi untuk belajar, sehingga sudah barang tentu hasilnya akan lebih baik.
10. Minat
Motivasi muncul karena ada kebutuhan, begitu juga minat sehingga tepatlah kalau minat merupakan alat motivasi yang pokok. Proses belajar itu akan berjalan lancar kalau disertai dengan minat. Mengenai minat ini antara lain dapat dibangkitkan dengan cara sebagai berikut :
a. Membangkitkan adanya suatu kebutuhan
b. Menghubungkan dengan persoalan pengalaman yang lampau
c. Memberi kesan untuk mendapatkan hasil yang baik
d. Menggunakan berbagai macam bentuk mengajar
11. Tujuan yang diakui
Rumusan tujuan yang diakui dan diterima oleh siswa, akan merupakan alat motivasi yang sangat penting. sebab dengan memahami tujuan yang harus dicapai, karena dirasakan sangat berguna dan menguntungkan, maka akan timbul gairah untuk terus belajar.
Di samping bentuk-bentuk motivasi sebagaimana diuraikan sebelumnya, sudah barang tentu masih banyak bentuk dan cara yang bisa dimanfaatkan. Hanya yang penting bagi guru atau dosen adanya bermacam-macam motivasi itu dapat dikembangkan dan diarahkan untuk dapat melahirkan hasil belajar yang bermakna. Mungkin pada mulanya, karena ada sesuatu (bentuk motivasi) siswa itu rajin belajar, tetapi guru harus mampu melanjutkan dari tahap rajin belajai itu bisa diarahkan menjadi kegiatan yang bermakna, sehingga hasilnya pun akan bermakna bagi kehidupan siswa atau mahasiswa sebagai subjek belajar.
2.5 Teori yang Berkaitan dengan Motivasi
Pada hakekatnya, manusia melakukan aktivitas itu didorong oleh adanya faktor-faktor kebutuhan biologis, insting, unsur-unsur kejiwaan yang lain serta adanya pengaruh perkembangan budaya manusia. sebenarnya semua faktor-faktor itu tidak dapat dipisahkan dari soal kebutuhan, kebutuhan dalam arti luas, baik yang berifat biologis, maupun psikologis. Dengan demikian, dapatlah ditegaskan bahwa motivasi akan selalu berkaitan dengan kebutuhan. Karena seseorang akan terdorong melakukan sesuatu bila merasa ada hal-hal yang harus dipenuhinya.
Menurut Morgan dan ditulis kembali oleh S. Nasution, bahwa manusia hidup dengan memiliki berbagai kebutuhan.
1. Kebutuhan berbuat untuk suatu aktivitas
2. Kebutuhan untuk menyenangkan orang lain
3. Kebutuhan untuk mencapai hasil
4. Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan
Relevan dengan kebutuhan yang diungkapkan oleh Morgan, maka timbullah teori tentang motivasi. Teori ini lahir dan berkembang di kalangan para psikolog. Menurut ahli ilmu jiwa, dijelaskan bahwa dalam motivasi itu ada suatu hierarki, maksudnya motivasi itu ada tingkatan-tingkatannya, yakni dari bawah ke atas.
Dalam hal ini beberapa teori tentang motivasi yang selalu bergayut dengan soal kebutuhan, yaitu :
1. Kebutuhan fisiologis, seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat dan sebagainya.
2. Kebutuhan akan keamanan (security), yakni rasa aman, bebas dari rasa takut dan kecemasan.
3. Kebutuhan akan cinta dan kasih.
4. Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial dan lain-lain.
Di samping teori-teori yang ada, teori-teori lain yang perlu diketahui adalah :
1. Teori Insting
Menurut teori ini tindakan setiap diri manusia diasumsikan seperti tingkat jenis binatang. Tindakan manusia itu dikatakan selalu berkait dengan insting atau pembawaan. Dalam memberikan respons terhadap adanya kebutuhan seolah-olah tanpa dipelajari. Tokoh dari teori ini adalah Mc. Dougall
2. Teori Fisiologis
Teori ini juga disebut “Behavior Theories”, menurut teori ini manusia itu berakar pada usaha memenuhi kebutuhan organic dan kepuasan atau kebutuhan untuk kepentingan fisik. Dari teori inilah muncul perjuangan hidup, perjuangan untuk mempertahankan hidup, struggle for survival.
3. Teori Psikoanalitik
Teori ini mirip dengan teori insting, tetapi lebih ditekankan pada unsur-unsur kejiwaan yang ada pada diri manusia. bahwa setiap tindakan manusia karena adanya unsur pribadi manusia yakni iq dan ego. Tokoh dari teori ini adalah Freud.
2.6 Pengaruh Motivasi Terhadap Pencapaian Tujuan atau Prestasi Belajar
Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai.
Berdasarkan pengertian itu, maka motivasi dapat dikatakan sebagai alasan mengapa seseorang melakukan aktivitas dan merupakan penggerak dalam kegiatan belajar serta menjadi penunjuk arah dalam pencapaian tujuan. Artinya, tidak akan ada yang terjadi apabila motivasi tidak ada pada diri manusia. Tokoh-tokoh pendidikan seperti Mc Clelland (1985), Bandura (1977), Bloom (1980), Wernes (1986), Fyas dan Maehr (1987) melakukan berbagai penelitian tenang peranan motivasi dalam belajar dan menemukan hasil yang menarik.
Sebagai contoh, dalam sudi yang dilakukan Fyas & Maehr (1987) di antara tiga faktor, yaitu : latar belakang keluarga, kondisi atau konteks sekolah dan motivasi, faktor yang terakhir merupakan predictor yang paling baik untuk prestasi belajar. Welberg dkk (1983) menyimpulkan bahwa motivasi mempunyai kontribusi antara 11 sampai 20 persen terhadap prestasi belajar. Studi yang dilakukan suciati (1990) menyimpulkan bahwa kontribusi motivasi sebesar 36 persen. Sedangkan MC Clelland menunjukkan bahwa motivasi berprestasi (achievement motivation) mempunyai kontribusi sampai 64 persen terhadap prestasi belajar.
Berdasarkan penemuan di atas kita dapat mempertimbangkan untuk melakukan intervensi dalam hal meningkatkan motivasi belajar mahasiswa.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa, keberhasilan seseorang dalam prestasi belajar tidak mutlak ditentukan oleh kemampuan intelegensinya yang tinggi tetapi motivasi yang kuat dapat memberikan kesuksesan kepada mahasiswa yang ber-IQ sedang, semakin kuat motivasi seseorang maka akan semakin besar peluang untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam prestasi belajar.
BAB III
PENUTUP
3.1 Simpulan
motivasi merupakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka itu.
Ada tiga fungsi motivasi yaitu :
a. Mendorong manusia untuk berbuat
b. Menentukan arah perbuatan
c. Menyeleksi perbuatan
Macam-macam motivasi
a. Motivasi dilihat dari dasar pembentukannya
b. Jenis motivasi menurut pembagian dari Woodworth & Marquis
c. Motivasi jasmaniah dan rohaniah
d. Motivasi intrinsik dan ekstrinsik
Bentuk dan cara menumbuhkan motivasi dalam kegiatan belajar :
a. Memberi angka
b. Hadiah
c. Saingan/kompetisi
d. Ego-involvement
e. Memberi ulangan
f. Pujian
g. Hukuman
h. Hasrat untuk belajar
i. Minat
j. Tujuan yang diakui
Teori yang berkaitan dengan motivasi
a. Dalam hal ini beberapa teori tentang motivasi yang selalu bergayut dengan soal kebutuhan, yaitu :
Kebutuhan fisiologis, seperti lapar, haus, kebutuhan untuk istirahat dan sebagainya.
Kebutuhan akan keamanan (security), yakni rasa aman, bebas dari rasa takut dan kecemasan.
Kebutuhan akan cinta dan kasih.
Kebutuhan untuk mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan, sosial dan lain-lain.
b. Di samping teori-teori yang ada, teori-teori lain yang perlu diketahui adalah :
Teori insting
Teori fisiologis
Teori psikoanalitik
Pengaruh motivasi terhadap pencapaian tujuan atau prestasi :
Maka motivasi dapat dikatakan sebagai alasan mengapa seseorang melakukan aktivitas dan merupakan penggerak dalam kegiatan belajar serta menjadi penunjuk arah dalam pencapaian tujuan. Artinya, tidak akan ada yang terjadi apabila motivasi tidak ada pada diri manusia.
Semakin kuat motivasi seseorang maka akan semakin besar peluang untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan dalam prestasi belajar.
3.2 Saran
Setelah menarik kesimpulan, penyusun menyarankan kepada pembaca untuk dapat memotivasi dirinya sendiri untuk mencapai sesuatu yang dikehendaki. Begitu pula dengan orang tua dan guru/dosen, agar dapat memotivasi anak dan siswa/mahasiswanya untuk mencapai kesuksesan dalam meraih sesuatu.
DAFTAR PUSTAKA
Irawan, Prasetya, dkk. 1997. Teori Belajar, Motivasi, dan Keterampilan Mengajar. PAU-PPAI: Jakarta.
Sardiman. 2002. Intruksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
.. 2008. Instruksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
Surjadi. 1989. Membuat Siswa Aktif Belajar. Bandung: Mandar Maju.
MAKALAH ILMU ALAMIAH DASAR “PENGENALAN IPA”
MAKALAH
ILMU ALAMIAH DASAR
“PENGENALAN IPA”
DISUSUN
O
L
E
H
KELOMPOK 1
SUPARTOMO
PRODI PENDIDIKAN EKONOMI AKUNTANSI
JURUSAN EKONOMI DAN BISNIS
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2009
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil Alamin, puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga tugas kolektif yang berbentuk makalah dengan judul “PENGENALAN IPA” dapat terselesaikan tepat waktu, meskipun dengan berbagai macam halangan.
Makalah ini disusun sebagai bahan diskusi yang akan kami presentasikan dan merupakan implementasi dari program belajar aktif oleh dosen dan Dinas Pendidikan. Dengan tersusunnya makalah ini, kami dapat mengetahui dan memahami awal dari perkembangan IPA itu sendiri yang sangat koheren dengan kegiatan kita sehari-hari.
Semoga dengan tersusunnya makalah ini akan membawa dan memberi serta menambah wawasan kita mengenai IPA yang kemudian dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menyadari masih banyak kesalahannya kekhilafan di dalamnya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa kami harapkan demi penyempurnaan makalah berikutnya.
Gorontalo, April 2009
Penyusun
Kelompok 1 (Satu)
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Permasalahan
1.3 Tujuan Penyusunan Makalah
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Peranan IPA
2.2 Perkembangan Alam Pikiran Manusia
(Sifat Unik Manusia, Rasa Ingin Tahu, Mitos,
Penalaran Deduktif Dan Induktif)
2.3 Pengetahuan Sebagai Pangkal Kelahiran IPA .
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini, IPTEK yang semakin maju membuat peran aktif manusia dalam bekerja sangat sulit ditemukan. Hal ini tidak dapat dipisahkan dengan peran IPA sebagai ilmu pengetahuan yang melahirkan teknologi super canggih. Sekarang ini telah terlahir pesawat dengan kecepatan super sonic, satu atau dua tahun kemudian bisa saja akan terlahir sebuah mesin dengan kecepatan partikel cahaya, yang hanya dalam hitungan menit, dan bahkan detik dapat mengantarkan manusia ke luar angkasa. Semua karena IPTEK dan IPA.
Menurut A. Comte, ada tiga tahap dalam sejarah perkembangan manusia dan IPA yaitu :
• Tahap Metafisika
• Tahap Filsafat
• Tahap Ilmu
Agar perkembangan IPA dan IPTEK tak terputus dan berhenti sampai disini, maka dibutuhkan ilmuan-ilmuan baru yang memberi inovasi-inovasi dalam kehidupan. Sebelum membahas bagaimana melahirkan sebuah inovasi tentunya kita perlu mengenal ilmu yang melahirkan inovasi tersebut.
1.2 Permasalahan
Dalam makalah ini ada beberapa hal yang akan menjadi topic pembahasan kita yaitu :
a. Pengertian dan peranan IPA
b. Perkembangan alam pikiran manusia
c. Sifat unik manusia
d. Rasa ingin tahu
e. Mitos
f. Penalaran deduktif dan induktif
1.3 Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan dalam penyusunan makalah ini adalah :
Sebagai tugas kolektif yang diberikan oleh dosen pembimbing Mata Kuliah IAD.
Sebagai referensi dan pengenalan Mata Kuliah IAD.
Mengetahui perkembangan alam pikiran manusia yang dari primitive ke modern.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Peranan IPA
Pengertian
Sebenarnya tidak mudah mendefinisikan apakah IPA itu ? H.W. Fowler dan kawan-kawan (1951), mendefinisikan IPA sebagai ilmu yang sistematis dan dirumuskan. Ilmu ini berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan terutama didasarkan atas pengamatan dan induksi.
Nabes di dalam bukunya Science in Education menyatakan bahwa IPA adalah pengetahuan yang teoritis yang diperoleh dengan metode khusus.
Kedua pendapat di atas sebenarnya tidak berbeda. Memang benar IPA adalah ilmu teoretis, tetapi teori itu didapat dari pengamatan dan ekperimentasi terhadap gejala-gejala alam.
Fakta tentang gejala kebendaan atau alam, diselidiki dan diuji berulang-ulang melalui eksperimen. Berdasarkan hasil itulah dirumuskan keterangan ilmiahnya (teori). Teori pun idak dapat berdiri sendiri. Teori didasari oleh suatu hasil pengamatan.
Contoh :
Maxwell tidak akan menyusun teori gelombang elektromagnetik, jika Faraday tidak berhasil dalam percobaan-percobaannya mengenai induksi elektromagnetik.
Planet Neptunus tidak akan ditemukan secara teoretis, seandainya sebelumnya tidak ada pengamatan yang menyaksikan suatu keanehan dalam lintasan planet-planet lainnya.
Jadi, dapat disetujui bahwa IPA adalah suatu pengetahuan teoretis yang diperoleh / disusun dengan cara khas, yakni dengan melakukan observasi eksperimen. Permentasi, peyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan seterusnya, berkaitan antara cara yang satu dengan cara yang lain. Cara untuk memperoleh ilmu secara demikian ini terkenal dengan nama Metode Ilmiah.
Peranan
IPA adalah ilmu yang membahas tentang alam dan segala isinya. Sedangkan teknologi IPA adalah suatu penerapan IPA yang memenuhi kebutuhan manusia.
Teknologi IPA ini dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu :
1 Teknologi maju yakni teknologi tingkat pertama suatu usaha yang mengarah pada bidang pendidikan, latihan serta pembinaan para peneliti ilmiah untuk selalu mengikuti dan menguasai perkembangan teknologi yang vital serta dibutuhkan oleh suatu negara.
2 Teknologi Adaptif (teknologi madya), yakni perkembangan dari suatu teknologi maju yang penggunannya mesti harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan negara yang memerlukan.
3 Teknologi Protekif, adalah teknologi yang digunakan untuk melindungi (konservasi, restorasi, dan regenerasi) segenap SDA yang ada.
Pada mulanya antara ilmu pengetahuan dan teknologi itu tidak selalu ada kaitannya, makudnya suatu pengetahuan tidak harus menjadi ilmu terlebih dahulu. Sekarang ilmu dan teknologi tidak lagi berdiri sendiri. Sains dan teknologi selalu saling menunjang sehingga dapat maju dengan pesat.
Berikut ini adalah konsep-konsep dasar teknologi IPA dalam memenuhi kebutuhan manusia.
Materi dan Energi
Dalam IPA, sasaran yang dipelajari adalah alam semesta dan isinya. Ilmu fisika memandang kesemuanya itu adalah materi dan energi.Yang dimaksud dengan materi dalam fisika adalah apa saja yang mempunyai massa dan menempati suatu ruang. Contohnya meja, kursi, awan, gunung, dan sebagainya.
Materi ini dari unsure kimia yaitu C (karbon), H (hydrogen), O (oksigen), N (nitrogen), P (phosphor) dan lain-lain. Unsur-unsur kimia ini bergabung dan menyusun atau membentuk suatu molekul yang merupakan unsur pembentuk materi. Materi dapat berwujud gas, padat, dan cair. Zat padat memiliki bentuk dan volume yang tetap, selama tidak ada pengaruh dari luar (misalnya panas).
Zat cair mempunyai bentuk yang berubah-ubah sesuai dengan bentuk tempat/wadahnya, sedangkan volumenya tetap. Gas, bentuk volumenya tidak tetap.
Sedangkan yang dimaksud dengan energi adalah sesuatu yang dapat memindahkan materi dari suatu tempat ke tempat yang lain.
Energi ini bermacam-macam bentuknya, yaitu :
1) Energi Mekanik
Merupakan jumlah energi potensial dan energi kinetic. Setiap benda mempunyai berat, maka baik di dalam keadaan diam atau bergerak setiap benda memiliki energi. Misalnya, energi yang tersimpan dalam suatu benda yang diam (tidak aktif) disebut energi potensial, sedangkan bila benda tersebut jatuh (aktif), maka jatuhnya benda tersebut disebut energi kinetic (energi gerak).
2) Energi panas (kalor)
Pemberian panas suatu benda menyebabkan kenaikan suhu suatu benda atau mengubah suatu bentuk, ukursn ataupun volume suatu benda.
3) Energi magnetic
Energi yang timbul bila kutub 2 batang magnet didekatkan. Kemampuan kutub untuk menggerakkan (tolak menolak atau tarik menarik) inilah yang disebut energi magnetic.
4) Energi listrik
Energi listrik dapat ditimbulkan dengan beberapa cara, yaitu yang berasal dari :
• Air terjun, air sungai dengan mengubah energi kinetic.
• Energi angina untuk menggerakkan kincir angina.
• Penggunaan ahli
• Uap yang digunakan untuk memutar generator listrik.
• Tenaga diesel nuklir
5) Energi kimia
Energi yang diperoleh melalui suatu proses kimia. Contohnya, manusia dapat memperoleh energi dari perubahan makanan yang dikonsumsinya.
6) Energi bunyi
Energi bunyi dapat diartikan sebagai getaran. Contohnya, meledaknya suatu bom menimbulkan getaran yang hebat yang dapat menyebabkan robohnya bangunan atau memecahkan kaca.
7) Energi nuklir
Energi nuklir diperoleh apabila suatu atom pecah menjadi atom yang lain, pecahan atom disertai dengan pembebasan energi.
8) Energi cahaya
Sumber utama cahaya yang digunakan oleh manusia adalah matahari, sedangkan tumbuhan memerlukan matahari untuk melakukan proses fotosintesis. Energi juga dapat berubah-ubah bentuknya sebagai contoh : energi panas berubah menjadi energi mekanik yang dapat dilihat pada air yang dipanaskan menjadi uap, uap panas ini menekan baling-baling suatu turbin sehingga turbin itu bergerak. Gerakan turbin ini dapat dimanfaatkan untuk bermacam-macam keperluan.
Energi mekanik dapat diubah menjadi energi listrik, yaitu dengan gerakannya energi mekanik memutar dynamo sehingga menghasilkan aliran listrik.
Energi listrik dapat diubah lagi menjadi energi cahaya (aliran listrik memijarkan bola lampu listrik), energi kimia (dialirkan dalam zat kimia kalium khlorat untuk bahan peledak) atau berubah kembali menjadi energi cahaya.
2.2 Perkembangan Alam Pikiran Manusia
Bumi tempat manusia hidup berisi dua macam makhluk, artinya Tuhan menciptakan dua makhluk yaitu satu benda yang sifatnya aroganis dan yang lain makhluk yang bersifat organis.
Benda yang menjadi pengisi bumi tunduk pada hukum alam (deterministis), sedangkan makhluk tunduk pada hukum kehidupan (biologis). Masing-masing memiliki tingkatan-tingkatan pada perwujudannya, benda dapat berupa gas, cair, atau padat yang memiliki ciri sendiri-sendiri sehingga mudah dibedakan satu dari yang lain. Sedangkan makhluk hidup dibedakan tingkatannya atas tumbuhan, binatang, dan manusia. masing-maing juga memiliki ciri-ciri khas sehingga secara mudah dibedakan satu dari yang lain, tetapi ciri-ciri kehidupan manusia sebagai makhluk yang tertinggi, lebih sempurna dari binatang, apalagi tumbuhan.
Sifat Unik Manusia
Manusia sebagai makhluk hidup umumnya mempunyai ciri-ciri :
1) Organ tubuhnya kompleks dan sangat khusus, terutama otaknya sehingga manusia merupakan makhluk yang cerdas dan bijaksana (homo sapiens). Adanya kemampuan untuk berusaha, maka manusia menggunakan pikirannya untuk melakukan sesuatu dimasa sekarang atau masa depan dengan pertimbangan masa lalu yang merupakan pengalaman.
2) Mengadakan metabolisme atau pertukaran zat, yakni adanya zat yang masuk dan ke luar.
3) Memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari dalam dan luar.
4) Memiliki potensi untuk berkembang biak.
5) Tumbuh dan bergerak
6) Berinteraksi dengan lingkungan, artinya :
a. Manusia dapat membuat alat-alat dan menggunakannya sehingga disebut sebagai manusia kerja (homo faber)
b. Manusia dapat berbicara (homo lauguens), sehingga apa yang menjadi pemikiran dalam otaknya dapat disampaikan melalui bahasa kepada manusia lainnya.
c. Manusia dapat hidup bermasyarakat (homo socios), tidak bergerombol seperti binatang yang hanya mengenal hokum rimba, yang kuat itulah yang berkuasa.
d. Manusia dapat mengadakan usaha atas dasar perhitungan ekonomi (homo economicos)
7) Bila tiba masanya, ia akan mati. Oleh karena itu manusia menyadari adanya kekuatan gaib yang memiliki kemampuan lebih hebat dari manusia, sehingga menjadikannya manusia berkepercayaan / beragama (homo religious).
Dalam tahap awal, lahir animisme, dinamisme, maupun toleisme yang sekarang dikategorikan sebagai kepercayaan dan kadang-kadang sebagai agama alami. Kemudian lahir agama samawi yang percaya kepada Tuhan YME, percaya kepada Nabi dan Rasul serta kitab suci-Nya sebagai pedoman hidup.
Bila dibandingkan tubuh manusia dengan hewan tingkat tinggi lainnya, maka tubuh manusia lemah. Kelebihan manusia adalah rohaninya, yakni akal budi dan kemauannya yang sangat kuat sehingga dengan akal budi dan kemauannya tersebut, manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Rasa Ingin Tahu
IPA itu, berawal dari rasa ingin tahu yang merupakan ciri khas manusia. manusia mempunyai rasa ingin ahu tenang benda-benda di sekelilingnya, alam di sekitarnya, baik bulan, bintang maupun matahari yang dipandangnya, bahkan ingin tahu pada tentang dirinya sendiri.
Rasa ingin tahu itu tidak dimiliki oleh makhluk lain. Jelas kiranya, bahwa rasa ingin tahu tidak dimiliki oleh benda-benda tak bernyawa seperti batu, tanah, sungai ataupun angina. Air dan udara memang bergerak dari satu tempat ke tempat lain, namun gerakannya itu bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi sekedar akibat dari pengaruh alamiah yang bersifat kekal.
Rasa ingin tahu tak terpuaskan, jika salah satu soal dapat dipecahkan, maka timbul soal lain yang menunggu penyelesaian. Akal budi manusia pun tak pernah puas dengan pengetahuan yang dimilikinya, selalu timbul keinginan untuk menambah pengetahuan. Tiap individu atau kelompok individu mempunyai kelebihan yakni kemampuan berpikir atau dengan perkataan lain curiousity-nya tidak idle, tidak tetap seperti itu sepanjang zaman. Ia akan bertanya terus setelah tahu tentang APAnya, mereka juga ingin tahu BAGAIMANA dan MENGAPA begitu. Manusia mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuan yang baru hingga menjadi pengetahuan yang lebih baru.
Hal tersebut berlangsung berabad-abad lamanya sehingga terjadi suatu akumulasi pengetahuan. Rasa ingin tahu yang terus berkembang dan seolah-olah tanpa batas itu menimbulkan perbendaharaan pengetahuan pada manusia itu sendiri. Rasa ingin tahu manusia pada mulanya mengenai diri sendiri yang akhirnya disadari bahwa dirinya terdiri dari dua unsure yaitu rohani dan jasmani. Diketahuinya bahwa roh itu ada dalam tubuh manusia karena adanya pengalaman dan pengertian tentang mimpi dan orang meninggal, roh dikatakan abadi walaupun telah meninggalkan badan, sedangkan tubuh yang ditinggalkan roh membusuk.
Perkembangan Alam Pikiran Manusia
Rasa ingin tahu yang dimiliki manusia, menyebabkan alam pikiran manusia berkembang. Ada dua macam perkembangan yang dapat kita ketahui, yakni :
1 Perkembangan alam pikiran manusia sejak dilahirkan sampai akhir hayatnya.
Alam pikiran seorang bayi yang baru dilahirkan, mengalami perkembangan yang hampir serupa. Ketika anak kecil mengamati lingkungan, muncul bermacam-macam pertanyaan di dalam pikirannya. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, anak kecil mengadakan penyelidikan sendiri atau bertanya kepada ibu, ayah, kakak atau orang lain yang mengasuhnya.
Alam pikiran anak berkembang dengan pesat. Rasa ingin tahu seorang anak akan melemah, apabila orang-orang di sekelilingnya terlalu sibuk, terlalu malas atau terlalu bodoh untuk memuaskan rasa ingin tahu anak tersebut. Dengan demikian perkembangan alam pikiran anak akan terhambat.
2 Perkembangan alam pikiran manusia sejak zaman purba hingga dewasa ini.
Pada zaman purba, manusia sudah menghadapi berbagai teka-teki yakni terbit dan terbenamnya matahari, perubahan bentuk bulan, pertumbuhan dan pembiakan makhluk hidup, adanya angina, petir, hujan, dan pelangi.
Terdorong rasa ingin tahunya yang sangat kuat, manusia purba mulai menyelidiki apa penyebab terjadinya fenomena-fenomena itu dan apa akibatnya. Penyelidikan ini menghasilkan jawaban atas banyak persoalan, tetapi kemudian timbul persoalan-persoalan baru. Dengan demikian alam pikiran manusia purba mulai berkembang. Perkembangan itu berlangsung terus sampai sekarang dan akan berlanjut dimasa mendatang. Mekipun semua orang memiliki rasa ingin tahu, tetapi tidak setiap orang mampu dan mau mengadakan penyelidikan sendiri. Banyak yang sudah merasa puas dengan memilih jalan pintas yakni bertanya kepada orang lain yang telah menyelidiki atau bertanya kepada orang lain yang telah bertanya. Cara melalui jalan pintas ini pun menyebabkan alam pikiran manusia berkembang.
Mitos
Perkembangan lebih lanjut dari rasa ingin tahu manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan non-fisik atau kebutuhan alam pikirannya. Jadi, tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pengamatan maupun pengalamnnya. Untuk memuaskan alam pikirannya, manusia mereke-reka sendiri jawabannya.
Berdasarkan sejarah perkembangan manusia menurut A.Comte ada tiga tahap yaitu :
1) Tahap teologi atau tahap metafisika
2) Tahap filsafat
3) Tahap positif atau tahap ilmu
Mitos termasuk dalam tahap teologi atau tahap metafiska. Metologi berarti pengetahuan tentang mitos yang merupakan kesimpulan cerita-cerita mitos. Dalam alam pikiran mitos, rasio atau penalaran belum terbentuk, yang bekerja hanya daya khayal, instuisi atau imajinasi.
Menurut C.A. Van Peursen, mitos adalah suatu cerita yang memberikan pedoman atau arah tertentu kepada sekelompok orang. Cerita itu dapat ditularkan, dapat, dapat pula diungkapkan lewat tari-tarian atau pementasan wayang dan sebagainya.
Secara garis besar, mitos dibedakan atas tiga macam, yaitu :
1) Mitos sebenarnya
Manusia berusaha sungguh-sungguh dengan imajinasinya menerangkan gejala alam yang ada. Namun belum tepat, karena kurang pengetahuannya sehingga untuk bagian tersebut orang mengaitkannya dengan seorang tokoh atau dewa atau dewi.
Contoh :
Apakah pelangi itu ? karena tak dapat dijawab, mereka mereka-reka dengan jawaban bahwa pelangi adalah selendang bidadari. Jadi, muncul pengetahuan baru yakni bidadari.
Gempa bumi diduga terjadi karena atlas (raksasa yang memikul bumi pada bahunya) sedang memindahkan bumi dari bahu yang satu ke bahu yang lainnya.
2) Cerita rakyat
Mitos yang merupakan cerita rakyat adalah usaha manusia mengisahkan peristiwa penting yang menyangkut kehidupan masyarakat karena cerita rakyat hanya disampaikan dari mulut ke mulut, maka sulit diperiksa kebenarannya. Tetapi gejala yang ada dalam masyarakat memang ada dan agar meyakinkan, seorang tokoh dikaitkan dalam cerita rakyat.
Contoh :
“ Lutung kasarung dari daerah Pasudan, Bawang Merah Bawang Putih dan Timun Emas dari Jawa Tengah dan sebagainya”.
3) Legenda
Adapun cerita yang didasarkan mitos disebut legenda. Dalam legenda dikemukakan seorang okoh yang dikaitkan dengan terjadinya suatu daerah.
Contoh :
“ Sangkuriang yang dikaitkan dengan gunung Tangkuban Perahu dan Dataran Tinggi Bandung yang dahulunya merupakan danau”.
Manusia pada tahap teologi (menurut A. Comte) atau pada tahap mitos (C.A. Van Peursen), belum dapat melihat realita ini dengan inderanya. Manusia belum dapat mengetahui dan menangkap peristiwa (objek) dengan alam pikirannya, maka manusia beranggapan bahwa dewa, dewi, hantu, setan atau makhluk gaib lainnya yang dianggap sakti atau berkuasa sedang murka.
Penyebab timbulnya mitos
1) Keterbatasan Pengetahuan Manusia
Pada saat manusia masih terbatas pengetahuannya, belum banyak yang mereka ketahui. Pengetahuan mereka diperoleh dari cerita orang, karena seseorang mengetahui sesuatu hal. Kemudian memberitahukannya lagi kepada orang lain. Apakah yang diketahui sudah benar atau belum, merupakan permasalahan. Dari hal yang tidak benar, kemudian disalahkan setelah ada kebenaran, maka pengetahuan orang tentang sesuatu jadi bertambah.
2) Keterbaasan Penalaran Manusia
Manusia memang mampu berpikir, namun pmikirannya perlu terus-menerus dilatih. Pemikiran itu sendiri dapat benar dapat pula salah. Akhirnya penalaran yang salah akan kalah atau penalaran yang benar. Untuk itu diperlukan waktu guna meyakinkan.
3) Keinginan Manusia Yang Telah Dipenuhi Untuk Sementara
Kebenaran memang harus dapat diterima oleh akal, tetapi sebagian lagi dapat diterima secara intuisi, yakni penerimaan atas dasar kata hati tentang sesuatu yang benar. Kata hati yang irasional dalam kehidupan masyarakat awam sudah dapat diterima sebagai suatu kebenaran atau pseudo science.
4) Keterbatasan Alat Indera Manusia
Alat penglihatan
Banyak benda-benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh mata. Mata tak dapat membedakan sepuluh gambar yang berbeda satu dengan yang lain dalam satu detik. Jika ukuran partikel jauh, maka mata tak mampu melihatnya.
Alat pendengaran
Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai frekuensi dari 30 sampai 30.000 hertz/detik, getaran di bawah 30 atau di atas 30.000 hertz/detik tidak terdengar.
Alat pencium dan pengecap
Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang dicecap maupun yang diciumnya. Manusia hanya bisa membedakan empat jenis rasa yakni rasa manis, asin, asam dan pahit. Bau seperti parfum dan bau-bauan yang lain dapat dikenal oleh hidung kita, bila konsentrasinya di udara lebih dari sepuluh juta PPM. Melalui bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lainnya. Namun, tidak semua orang bisa melakukannya.
Alat perasa
Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas atau dingin, namun sangat relative, sehingga tidak bisa dipakai sebagai ala observasi. Akibat dari keterbatasan alat indera kita, maka mungkin timbul salah informasi, salah tafsir dan salah pemikiran.
Penalaran Deduktif Dan Induktif
Berkat pengamatan yang sistematis, kritis dan makin bertambahnya pengalaman yang diperoleh, lambat laun manusia berusaha mencari jawaban secara rasional dengan meninggalkan yang irasional. Pemecahan secara rasional berarti mengandalkan rasio dalam usaha memperoleh pengetahuan yang benar. Kaum rasionalis mengembangkan paham yang disebut rasionalisme. Dalam menyusun pengetahuan, kaum rasionalis menggunakan :
Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif adalah cara berpikir yang bertolak belakang dari pernyataan yang bersifat umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif ini menggunakan pola berpikir yang disebut silogisme. Silogisme terdiri dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Kedua pernyataan itu disebut premis mayor dan premis minor. Kesimpulan dan konklusi diperoleh dengan penalaran deduktif dari kedua premis tersebut.
Contoh :
Semua benda bisa dipanaskan dalam keadaan kering dan berubah menjadi api …………(1)
Kayu adalah benda .. ……….(2)
Kayu bila dipanaskan dalam keadaan kering akan berubah menjadi api ………..(3)
1 Disebut premis mayor, yakni sesuatu yang berlaku umum
2 Disebut premis minor, yakni sesuatu yang berlaku khusus.
3 Kesimpulan.
Jadi, kesimpulan ditarik dari sesuatu yang umum kepada yang khusus, dengan perkataan lain, kesimpulan ini hanya benar jika kedua premis yang digunakan benar dan cara menarik kesimpulannya juga benar. Jika ada yang salah dari ketiga hal di atas, maka kesimpulan yang diambil juga tidak benar.
Penalaran Induktif
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan deduktif ternyata mempunyai kelemahan, maka muncullah pandangan lain berdasarkan pengalaman konkret yang disebut penganut empirisme. Pendapat mereka, gejala alam itu bersifat konkret dan dapat ditangkap dengan panca indera manusia.
Penganut empirisme menyusun pengertian dengan menggunakan penalaran induktif. Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Dengan penalaran induktif, makin lama dapat disusun pernyataan yang lebih umum lagi dan makin bersifat fundamental.
Contoh :
a. Pengamatan atas logam besi, tembaga, aluminium dan sebagainya. Jika dipanasi ternyata bertambah panjang. Dari sini dapat disimpulkan secara umum, bahwa semua logam, jika dipanasi akan bertambah panjang.
b. Kucing bernafas, Kambing bernafas, Sapi, Kuda dan Harimau juga bernafas. Dapat disimpulkan secara umum bahwa semua hewan dapat bernafas.
c. Hewan dapat bernafas, manusia dapat bernafas. Jadi dapat disimpulkan, bahwa semua makhluk hidup dapat bernafas.
Dengan cara induktif, dapat diperoleh prinsip-prinsip yang bersifat umum sehingga memudahkan dalam hal memahami gejala yang beraneka ragam. Namun demikian, ternyata pengetahuan yang dikumpulkan berdasarkan penalaran induktif ini masih belum tentu bersifat kontradiktif. Demikian pula fakta yang berkaitan belum dapat menjamin tersusunnya pengetahuan yang sistematis.
2.3 Pengetahuan Sebagai Pangkal Kelahiran IPA
Himpunan pengetahuan di atas dapat disebut ilmu pengetahuan, jika digunakan perpaduan antara rasionalisme dan empiris yang dikenal sebagai metode keilmuan atau pendekatan ilmiah. Memang benar, bahwa IPA merupakan suatu ilmu yang teoretis. Teori tersebut didasarkan atas pengamatan percobaan-percobaan terhadap gejala-gejala alam.
Fakta-fakta tentang gejala-gejala kebenaran alam diselidiki dan diuji berulang-ulang melalui percobaan-percobaan (eksperimen). Kemudian berdasarkan hasil eksperimen itulah dirumuskan keterangan ilmiahnya (teori). Teori ini pun masih harus diuji kemantapan/kesaktiannya. Artinya, bilamana diadakan penelitian ulang, yang dilakukan oleh siapa pun, dengan langkah-langkah yang serupa dan kondisi yang sama, maka akan diperoleh hasil yang konsisten.
Metode keilmuan itu bersifat objektif, bebas dari keyakinan, perasaan dan prasangka pribadi serta bersifat konsisten. Artinya, dapat diuji oleh siapa pun dan dengan demikian kesimpulan yang diperoleh lebih dapat diandalkan dan hasilnya lebih mendekati kebenaran.
Secara lengkap dapat dikatakan, bahwa suatu himpunan pengetahuan dapat disebut IPA, bilamana memenuhi persyaratan sebagai berikut, objeknya adalah pengalaman manusia, berupa gejala-gejala alam. Kemudian dikumpulkan melalui metode keilmuan serta mempunyai manfaat untuk kesejahteraan manusia.
Timbulnya Ilmu Pengetahuan Alam
Berkat makin sempurnanya alat pengamat bintang, berupa teleskop dan juga makin meningkatnya kemampuan berpikir manusia, maka pada tahun 1500-1600, terjadi perubahan besar atas semua ajaran Aristoteles maupun Ptolomeus. Sebagai tonggak sejarah dapat dicatat disini adalah Nicoulas Copernicus. (1473-1543).
Ia tidak saja seorang astronom, tetapi juga ahli matematika dan pengobatan. Tulisannya yang terkenal, merombak pandangan astronom zaman Yunani Kuno berjudul De Revolutionibus Orbium Caelestium yang berarti peredaran alam semesta. Buku ini ditulis pada tahun 1507, namun tidak segera diumumkan, karena prinsip heliosentris (berpusat pada matahari) bertentang dengan kepercayaan penguasa pada saat itu.
Pokok ajarannya antara lain :
1) Matahari adalah pusat dari system solar. Di dalam system itu, bumi adalah salah satu dari planet-planet lain yang beredar mengelilingi matahari.
2) Bulan beredar mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari.
3) Bumi berputar pada porosnya dari Barat ke Timur yang mengakibatkan adanya siang dan malam serta pandangan tentang gerakan bintang-bintang.
Dengan rasionalisme dan empiris yang dikembangkan, ilmu pengetahuan maju dengan pesat, sehingga dikatakan sebagai revolusi ilmu pengetahuan (scientific revolution). Ilmu dipikirkan untuk kesejahteraan manusia (antologi) dan lahirnya ilmu terapan (applied science) memungkinkan terjadinya revolusi teknologi (technological revolution).
Terjadinya revolusi industri (industrial revolution) ialah sebagai jawaban manusia untuk memenuhi kebutuhan akan hasil industri setelah kebutuhan pangan tercapai. Dengan berkembangnya jumlah penduduk, soal pangan kembali menjadi masalah serius. Bioteknologi dikembangkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan elektronika saat itu juga maju pesat.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setelah menyusun makalah ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
IPA adalah suatu pengetahuan teoretis yang diperoleh / disusun dengan cara khas, yakni dengan melakukan observasi eksperimen.
Teknologi IPA ini dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu :
a. Teknologi maju yakni teknologi tingkat pertama suatu usaha yang mengarah pada bidang pendidikan, latihan serta pembinaan para peneliti ilmiah untuk selalu mengikuti dan menguasai perkembangan teknologi yang vital serta dibutuhkan oleh suatu negara.
b. Teknologi Adaptif (teknologi madya), yakni perkembangan dari suatu teknologi maju yang penggunannya mesti harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan negara yang memerlukan.
c. Teknologi Protekif, adalah teknologi yang digunakan untuk melindungi (konservasi, restorasi, dan regenerasi) segenap SDA yang ada.
3.2 Saran
Setelah menarik kesimpulan, oleh karenanya kami menyarankan kepada pembaca agar lebih memahami hal-hal yang berkaitan dengan IPA karena sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi IPA tidak saja bermanfaat dalam bidang pendidikan tetapi juga sangat berpengaruh dalam perkembangan teknologi suatu negara.
ILMU ALAMIAH DASAR
“PENGENALAN IPA”
DISUSUN
O
L
E
H
KELOMPOK 1
SUPARTOMO
PRODI PENDIDIKAN EKONOMI AKUNTANSI
JURUSAN EKONOMI DAN BISNIS
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2009
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahi Rabbil Alamin, puji syukur kami haturkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga tugas kolektif yang berbentuk makalah dengan judul “PENGENALAN IPA” dapat terselesaikan tepat waktu, meskipun dengan berbagai macam halangan.
Makalah ini disusun sebagai bahan diskusi yang akan kami presentasikan dan merupakan implementasi dari program belajar aktif oleh dosen dan Dinas Pendidikan. Dengan tersusunnya makalah ini, kami dapat mengetahui dan memahami awal dari perkembangan IPA itu sendiri yang sangat koheren dengan kegiatan kita sehari-hari.
Semoga dengan tersusunnya makalah ini akan membawa dan memberi serta menambah wawasan kita mengenai IPA yang kemudian dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penyusunan makalah ini, penyusun menyadari masih banyak kesalahannya kekhilafan di dalamnya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun senantiasa kami harapkan demi penyempurnaan makalah berikutnya.
Gorontalo, April 2009
Penyusun
Kelompok 1 (Satu)
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Permasalahan
1.3 Tujuan Penyusunan Makalah
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Peranan IPA
2.2 Perkembangan Alam Pikiran Manusia
(Sifat Unik Manusia, Rasa Ingin Tahu, Mitos,
Penalaran Deduktif Dan Induktif)
2.3 Pengetahuan Sebagai Pangkal Kelahiran IPA .
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dewasa ini, IPTEK yang semakin maju membuat peran aktif manusia dalam bekerja sangat sulit ditemukan. Hal ini tidak dapat dipisahkan dengan peran IPA sebagai ilmu pengetahuan yang melahirkan teknologi super canggih. Sekarang ini telah terlahir pesawat dengan kecepatan super sonic, satu atau dua tahun kemudian bisa saja akan terlahir sebuah mesin dengan kecepatan partikel cahaya, yang hanya dalam hitungan menit, dan bahkan detik dapat mengantarkan manusia ke luar angkasa. Semua karena IPTEK dan IPA.
Menurut A. Comte, ada tiga tahap dalam sejarah perkembangan manusia dan IPA yaitu :
• Tahap Metafisika
• Tahap Filsafat
• Tahap Ilmu
Agar perkembangan IPA dan IPTEK tak terputus dan berhenti sampai disini, maka dibutuhkan ilmuan-ilmuan baru yang memberi inovasi-inovasi dalam kehidupan. Sebelum membahas bagaimana melahirkan sebuah inovasi tentunya kita perlu mengenal ilmu yang melahirkan inovasi tersebut.
1.2 Permasalahan
Dalam makalah ini ada beberapa hal yang akan menjadi topic pembahasan kita yaitu :
a. Pengertian dan peranan IPA
b. Perkembangan alam pikiran manusia
c. Sifat unik manusia
d. Rasa ingin tahu
e. Mitos
f. Penalaran deduktif dan induktif
1.3 Tujuan
Adapun yang menjadi tujuan dalam penyusunan makalah ini adalah :
Sebagai tugas kolektif yang diberikan oleh dosen pembimbing Mata Kuliah IAD.
Sebagai referensi dan pengenalan Mata Kuliah IAD.
Mengetahui perkembangan alam pikiran manusia yang dari primitive ke modern.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Peranan IPA
Pengertian
Sebenarnya tidak mudah mendefinisikan apakah IPA itu ? H.W. Fowler dan kawan-kawan (1951), mendefinisikan IPA sebagai ilmu yang sistematis dan dirumuskan. Ilmu ini berhubungan dengan gejala-gejala kebendaan dan terutama didasarkan atas pengamatan dan induksi.
Nabes di dalam bukunya Science in Education menyatakan bahwa IPA adalah pengetahuan yang teoritis yang diperoleh dengan metode khusus.
Kedua pendapat di atas sebenarnya tidak berbeda. Memang benar IPA adalah ilmu teoretis, tetapi teori itu didapat dari pengamatan dan ekperimentasi terhadap gejala-gejala alam.
Fakta tentang gejala kebendaan atau alam, diselidiki dan diuji berulang-ulang melalui eksperimen. Berdasarkan hasil itulah dirumuskan keterangan ilmiahnya (teori). Teori pun idak dapat berdiri sendiri. Teori didasari oleh suatu hasil pengamatan.
Contoh :
Maxwell tidak akan menyusun teori gelombang elektromagnetik, jika Faraday tidak berhasil dalam percobaan-percobaannya mengenai induksi elektromagnetik.
Planet Neptunus tidak akan ditemukan secara teoretis, seandainya sebelumnya tidak ada pengamatan yang menyaksikan suatu keanehan dalam lintasan planet-planet lainnya.
Jadi, dapat disetujui bahwa IPA adalah suatu pengetahuan teoretis yang diperoleh / disusun dengan cara khas, yakni dengan melakukan observasi eksperimen. Permentasi, peyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi dan seterusnya, berkaitan antara cara yang satu dengan cara yang lain. Cara untuk memperoleh ilmu secara demikian ini terkenal dengan nama Metode Ilmiah.
Peranan
IPA adalah ilmu yang membahas tentang alam dan segala isinya. Sedangkan teknologi IPA adalah suatu penerapan IPA yang memenuhi kebutuhan manusia.
Teknologi IPA ini dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu :
1 Teknologi maju yakni teknologi tingkat pertama suatu usaha yang mengarah pada bidang pendidikan, latihan serta pembinaan para peneliti ilmiah untuk selalu mengikuti dan menguasai perkembangan teknologi yang vital serta dibutuhkan oleh suatu negara.
2 Teknologi Adaptif (teknologi madya), yakni perkembangan dari suatu teknologi maju yang penggunannya mesti harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan negara yang memerlukan.
3 Teknologi Protekif, adalah teknologi yang digunakan untuk melindungi (konservasi, restorasi, dan regenerasi) segenap SDA yang ada.
Pada mulanya antara ilmu pengetahuan dan teknologi itu tidak selalu ada kaitannya, makudnya suatu pengetahuan tidak harus menjadi ilmu terlebih dahulu. Sekarang ilmu dan teknologi tidak lagi berdiri sendiri. Sains dan teknologi selalu saling menunjang sehingga dapat maju dengan pesat.
Berikut ini adalah konsep-konsep dasar teknologi IPA dalam memenuhi kebutuhan manusia.
Materi dan Energi
Dalam IPA, sasaran yang dipelajari adalah alam semesta dan isinya. Ilmu fisika memandang kesemuanya itu adalah materi dan energi.Yang dimaksud dengan materi dalam fisika adalah apa saja yang mempunyai massa dan menempati suatu ruang. Contohnya meja, kursi, awan, gunung, dan sebagainya.
Materi ini dari unsure kimia yaitu C (karbon), H (hydrogen), O (oksigen), N (nitrogen), P (phosphor) dan lain-lain. Unsur-unsur kimia ini bergabung dan menyusun atau membentuk suatu molekul yang merupakan unsur pembentuk materi. Materi dapat berwujud gas, padat, dan cair. Zat padat memiliki bentuk dan volume yang tetap, selama tidak ada pengaruh dari luar (misalnya panas).
Zat cair mempunyai bentuk yang berubah-ubah sesuai dengan bentuk tempat/wadahnya, sedangkan volumenya tetap. Gas, bentuk volumenya tidak tetap.
Sedangkan yang dimaksud dengan energi adalah sesuatu yang dapat memindahkan materi dari suatu tempat ke tempat yang lain.
Energi ini bermacam-macam bentuknya, yaitu :
1) Energi Mekanik
Merupakan jumlah energi potensial dan energi kinetic. Setiap benda mempunyai berat, maka baik di dalam keadaan diam atau bergerak setiap benda memiliki energi. Misalnya, energi yang tersimpan dalam suatu benda yang diam (tidak aktif) disebut energi potensial, sedangkan bila benda tersebut jatuh (aktif), maka jatuhnya benda tersebut disebut energi kinetic (energi gerak).
2) Energi panas (kalor)
Pemberian panas suatu benda menyebabkan kenaikan suhu suatu benda atau mengubah suatu bentuk, ukursn ataupun volume suatu benda.
3) Energi magnetic
Energi yang timbul bila kutub 2 batang magnet didekatkan. Kemampuan kutub untuk menggerakkan (tolak menolak atau tarik menarik) inilah yang disebut energi magnetic.
4) Energi listrik
Energi listrik dapat ditimbulkan dengan beberapa cara, yaitu yang berasal dari :
• Air terjun, air sungai dengan mengubah energi kinetic.
• Energi angina untuk menggerakkan kincir angina.
• Penggunaan ahli
• Uap yang digunakan untuk memutar generator listrik.
• Tenaga diesel nuklir
5) Energi kimia
Energi yang diperoleh melalui suatu proses kimia. Contohnya, manusia dapat memperoleh energi dari perubahan makanan yang dikonsumsinya.
6) Energi bunyi
Energi bunyi dapat diartikan sebagai getaran. Contohnya, meledaknya suatu bom menimbulkan getaran yang hebat yang dapat menyebabkan robohnya bangunan atau memecahkan kaca.
7) Energi nuklir
Energi nuklir diperoleh apabila suatu atom pecah menjadi atom yang lain, pecahan atom disertai dengan pembebasan energi.
8) Energi cahaya
Sumber utama cahaya yang digunakan oleh manusia adalah matahari, sedangkan tumbuhan memerlukan matahari untuk melakukan proses fotosintesis. Energi juga dapat berubah-ubah bentuknya sebagai contoh : energi panas berubah menjadi energi mekanik yang dapat dilihat pada air yang dipanaskan menjadi uap, uap panas ini menekan baling-baling suatu turbin sehingga turbin itu bergerak. Gerakan turbin ini dapat dimanfaatkan untuk bermacam-macam keperluan.
Energi mekanik dapat diubah menjadi energi listrik, yaitu dengan gerakannya energi mekanik memutar dynamo sehingga menghasilkan aliran listrik.
Energi listrik dapat diubah lagi menjadi energi cahaya (aliran listrik memijarkan bola lampu listrik), energi kimia (dialirkan dalam zat kimia kalium khlorat untuk bahan peledak) atau berubah kembali menjadi energi cahaya.
2.2 Perkembangan Alam Pikiran Manusia
Bumi tempat manusia hidup berisi dua macam makhluk, artinya Tuhan menciptakan dua makhluk yaitu satu benda yang sifatnya aroganis dan yang lain makhluk yang bersifat organis.
Benda yang menjadi pengisi bumi tunduk pada hukum alam (deterministis), sedangkan makhluk tunduk pada hukum kehidupan (biologis). Masing-masing memiliki tingkatan-tingkatan pada perwujudannya, benda dapat berupa gas, cair, atau padat yang memiliki ciri sendiri-sendiri sehingga mudah dibedakan satu dari yang lain. Sedangkan makhluk hidup dibedakan tingkatannya atas tumbuhan, binatang, dan manusia. masing-maing juga memiliki ciri-ciri khas sehingga secara mudah dibedakan satu dari yang lain, tetapi ciri-ciri kehidupan manusia sebagai makhluk yang tertinggi, lebih sempurna dari binatang, apalagi tumbuhan.
Sifat Unik Manusia
Manusia sebagai makhluk hidup umumnya mempunyai ciri-ciri :
1) Organ tubuhnya kompleks dan sangat khusus, terutama otaknya sehingga manusia merupakan makhluk yang cerdas dan bijaksana (homo sapiens). Adanya kemampuan untuk berusaha, maka manusia menggunakan pikirannya untuk melakukan sesuatu dimasa sekarang atau masa depan dengan pertimbangan masa lalu yang merupakan pengalaman.
2) Mengadakan metabolisme atau pertukaran zat, yakni adanya zat yang masuk dan ke luar.
3) Memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari dalam dan luar.
4) Memiliki potensi untuk berkembang biak.
5) Tumbuh dan bergerak
6) Berinteraksi dengan lingkungan, artinya :
a. Manusia dapat membuat alat-alat dan menggunakannya sehingga disebut sebagai manusia kerja (homo faber)
b. Manusia dapat berbicara (homo lauguens), sehingga apa yang menjadi pemikiran dalam otaknya dapat disampaikan melalui bahasa kepada manusia lainnya.
c. Manusia dapat hidup bermasyarakat (homo socios), tidak bergerombol seperti binatang yang hanya mengenal hokum rimba, yang kuat itulah yang berkuasa.
d. Manusia dapat mengadakan usaha atas dasar perhitungan ekonomi (homo economicos)
7) Bila tiba masanya, ia akan mati. Oleh karena itu manusia menyadari adanya kekuatan gaib yang memiliki kemampuan lebih hebat dari manusia, sehingga menjadikannya manusia berkepercayaan / beragama (homo religious).
Dalam tahap awal, lahir animisme, dinamisme, maupun toleisme yang sekarang dikategorikan sebagai kepercayaan dan kadang-kadang sebagai agama alami. Kemudian lahir agama samawi yang percaya kepada Tuhan YME, percaya kepada Nabi dan Rasul serta kitab suci-Nya sebagai pedoman hidup.
Bila dibandingkan tubuh manusia dengan hewan tingkat tinggi lainnya, maka tubuh manusia lemah. Kelebihan manusia adalah rohaninya, yakni akal budi dan kemauannya yang sangat kuat sehingga dengan akal budi dan kemauannya tersebut, manusia dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Rasa Ingin Tahu
IPA itu, berawal dari rasa ingin tahu yang merupakan ciri khas manusia. manusia mempunyai rasa ingin ahu tenang benda-benda di sekelilingnya, alam di sekitarnya, baik bulan, bintang maupun matahari yang dipandangnya, bahkan ingin tahu pada tentang dirinya sendiri.
Rasa ingin tahu itu tidak dimiliki oleh makhluk lain. Jelas kiranya, bahwa rasa ingin tahu tidak dimiliki oleh benda-benda tak bernyawa seperti batu, tanah, sungai ataupun angina. Air dan udara memang bergerak dari satu tempat ke tempat lain, namun gerakannya itu bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi sekedar akibat dari pengaruh alamiah yang bersifat kekal.
Rasa ingin tahu tak terpuaskan, jika salah satu soal dapat dipecahkan, maka timbul soal lain yang menunggu penyelesaian. Akal budi manusia pun tak pernah puas dengan pengetahuan yang dimilikinya, selalu timbul keinginan untuk menambah pengetahuan. Tiap individu atau kelompok individu mempunyai kelebihan yakni kemampuan berpikir atau dengan perkataan lain curiousity-nya tidak idle, tidak tetap seperti itu sepanjang zaman. Ia akan bertanya terus setelah tahu tentang APAnya, mereka juga ingin tahu BAGAIMANA dan MENGAPA begitu. Manusia mampu menggunakan pengetahuannya yang terdahulu untuk dikombinasikan dengan pengetahuan yang baru hingga menjadi pengetahuan yang lebih baru.
Hal tersebut berlangsung berabad-abad lamanya sehingga terjadi suatu akumulasi pengetahuan. Rasa ingin tahu yang terus berkembang dan seolah-olah tanpa batas itu menimbulkan perbendaharaan pengetahuan pada manusia itu sendiri. Rasa ingin tahu manusia pada mulanya mengenai diri sendiri yang akhirnya disadari bahwa dirinya terdiri dari dua unsure yaitu rohani dan jasmani. Diketahuinya bahwa roh itu ada dalam tubuh manusia karena adanya pengalaman dan pengertian tentang mimpi dan orang meninggal, roh dikatakan abadi walaupun telah meninggalkan badan, sedangkan tubuh yang ditinggalkan roh membusuk.
Perkembangan Alam Pikiran Manusia
Rasa ingin tahu yang dimiliki manusia, menyebabkan alam pikiran manusia berkembang. Ada dua macam perkembangan yang dapat kita ketahui, yakni :
1 Perkembangan alam pikiran manusia sejak dilahirkan sampai akhir hayatnya.
Alam pikiran seorang bayi yang baru dilahirkan, mengalami perkembangan yang hampir serupa. Ketika anak kecil mengamati lingkungan, muncul bermacam-macam pertanyaan di dalam pikirannya. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, anak kecil mengadakan penyelidikan sendiri atau bertanya kepada ibu, ayah, kakak atau orang lain yang mengasuhnya.
Alam pikiran anak berkembang dengan pesat. Rasa ingin tahu seorang anak akan melemah, apabila orang-orang di sekelilingnya terlalu sibuk, terlalu malas atau terlalu bodoh untuk memuaskan rasa ingin tahu anak tersebut. Dengan demikian perkembangan alam pikiran anak akan terhambat.
2 Perkembangan alam pikiran manusia sejak zaman purba hingga dewasa ini.
Pada zaman purba, manusia sudah menghadapi berbagai teka-teki yakni terbit dan terbenamnya matahari, perubahan bentuk bulan, pertumbuhan dan pembiakan makhluk hidup, adanya angina, petir, hujan, dan pelangi.
Terdorong rasa ingin tahunya yang sangat kuat, manusia purba mulai menyelidiki apa penyebab terjadinya fenomena-fenomena itu dan apa akibatnya. Penyelidikan ini menghasilkan jawaban atas banyak persoalan, tetapi kemudian timbul persoalan-persoalan baru. Dengan demikian alam pikiran manusia purba mulai berkembang. Perkembangan itu berlangsung terus sampai sekarang dan akan berlanjut dimasa mendatang. Mekipun semua orang memiliki rasa ingin tahu, tetapi tidak setiap orang mampu dan mau mengadakan penyelidikan sendiri. Banyak yang sudah merasa puas dengan memilih jalan pintas yakni bertanya kepada orang lain yang telah menyelidiki atau bertanya kepada orang lain yang telah bertanya. Cara melalui jalan pintas ini pun menyebabkan alam pikiran manusia berkembang.
Mitos
Perkembangan lebih lanjut dari rasa ingin tahu manusia adalah untuk memenuhi kebutuhan non-fisik atau kebutuhan alam pikirannya. Jadi, tidak semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pengamatan maupun pengalamnnya. Untuk memuaskan alam pikirannya, manusia mereke-reka sendiri jawabannya.
Berdasarkan sejarah perkembangan manusia menurut A.Comte ada tiga tahap yaitu :
1) Tahap teologi atau tahap metafisika
2) Tahap filsafat
3) Tahap positif atau tahap ilmu
Mitos termasuk dalam tahap teologi atau tahap metafiska. Metologi berarti pengetahuan tentang mitos yang merupakan kesimpulan cerita-cerita mitos. Dalam alam pikiran mitos, rasio atau penalaran belum terbentuk, yang bekerja hanya daya khayal, instuisi atau imajinasi.
Menurut C.A. Van Peursen, mitos adalah suatu cerita yang memberikan pedoman atau arah tertentu kepada sekelompok orang. Cerita itu dapat ditularkan, dapat, dapat pula diungkapkan lewat tari-tarian atau pementasan wayang dan sebagainya.
Secara garis besar, mitos dibedakan atas tiga macam, yaitu :
1) Mitos sebenarnya
Manusia berusaha sungguh-sungguh dengan imajinasinya menerangkan gejala alam yang ada. Namun belum tepat, karena kurang pengetahuannya sehingga untuk bagian tersebut orang mengaitkannya dengan seorang tokoh atau dewa atau dewi.
Contoh :
Apakah pelangi itu ? karena tak dapat dijawab, mereka mereka-reka dengan jawaban bahwa pelangi adalah selendang bidadari. Jadi, muncul pengetahuan baru yakni bidadari.
Gempa bumi diduga terjadi karena atlas (raksasa yang memikul bumi pada bahunya) sedang memindahkan bumi dari bahu yang satu ke bahu yang lainnya.
2) Cerita rakyat
Mitos yang merupakan cerita rakyat adalah usaha manusia mengisahkan peristiwa penting yang menyangkut kehidupan masyarakat karena cerita rakyat hanya disampaikan dari mulut ke mulut, maka sulit diperiksa kebenarannya. Tetapi gejala yang ada dalam masyarakat memang ada dan agar meyakinkan, seorang tokoh dikaitkan dalam cerita rakyat.
Contoh :
“ Lutung kasarung dari daerah Pasudan, Bawang Merah Bawang Putih dan Timun Emas dari Jawa Tengah dan sebagainya”.
3) Legenda
Adapun cerita yang didasarkan mitos disebut legenda. Dalam legenda dikemukakan seorang okoh yang dikaitkan dengan terjadinya suatu daerah.
Contoh :
“ Sangkuriang yang dikaitkan dengan gunung Tangkuban Perahu dan Dataran Tinggi Bandung yang dahulunya merupakan danau”.
Manusia pada tahap teologi (menurut A. Comte) atau pada tahap mitos (C.A. Van Peursen), belum dapat melihat realita ini dengan inderanya. Manusia belum dapat mengetahui dan menangkap peristiwa (objek) dengan alam pikirannya, maka manusia beranggapan bahwa dewa, dewi, hantu, setan atau makhluk gaib lainnya yang dianggap sakti atau berkuasa sedang murka.
Penyebab timbulnya mitos
1) Keterbatasan Pengetahuan Manusia
Pada saat manusia masih terbatas pengetahuannya, belum banyak yang mereka ketahui. Pengetahuan mereka diperoleh dari cerita orang, karena seseorang mengetahui sesuatu hal. Kemudian memberitahukannya lagi kepada orang lain. Apakah yang diketahui sudah benar atau belum, merupakan permasalahan. Dari hal yang tidak benar, kemudian disalahkan setelah ada kebenaran, maka pengetahuan orang tentang sesuatu jadi bertambah.
2) Keterbaasan Penalaran Manusia
Manusia memang mampu berpikir, namun pmikirannya perlu terus-menerus dilatih. Pemikiran itu sendiri dapat benar dapat pula salah. Akhirnya penalaran yang salah akan kalah atau penalaran yang benar. Untuk itu diperlukan waktu guna meyakinkan.
3) Keinginan Manusia Yang Telah Dipenuhi Untuk Sementara
Kebenaran memang harus dapat diterima oleh akal, tetapi sebagian lagi dapat diterima secara intuisi, yakni penerimaan atas dasar kata hati tentang sesuatu yang benar. Kata hati yang irasional dalam kehidupan masyarakat awam sudah dapat diterima sebagai suatu kebenaran atau pseudo science.
4) Keterbatasan Alat Indera Manusia
Alat penglihatan
Banyak benda-benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh mata. Mata tak dapat membedakan sepuluh gambar yang berbeda satu dengan yang lain dalam satu detik. Jika ukuran partikel jauh, maka mata tak mampu melihatnya.
Alat pendengaran
Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai frekuensi dari 30 sampai 30.000 hertz/detik, getaran di bawah 30 atau di atas 30.000 hertz/detik tidak terdengar.
Alat pencium dan pengecap
Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang dicecap maupun yang diciumnya. Manusia hanya bisa membedakan empat jenis rasa yakni rasa manis, asin, asam dan pahit. Bau seperti parfum dan bau-bauan yang lain dapat dikenal oleh hidung kita, bila konsentrasinya di udara lebih dari sepuluh juta PPM. Melalui bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lainnya. Namun, tidak semua orang bisa melakukannya.
Alat perasa
Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas atau dingin, namun sangat relative, sehingga tidak bisa dipakai sebagai ala observasi. Akibat dari keterbatasan alat indera kita, maka mungkin timbul salah informasi, salah tafsir dan salah pemikiran.
Penalaran Deduktif Dan Induktif
Berkat pengamatan yang sistematis, kritis dan makin bertambahnya pengalaman yang diperoleh, lambat laun manusia berusaha mencari jawaban secara rasional dengan meninggalkan yang irasional. Pemecahan secara rasional berarti mengandalkan rasio dalam usaha memperoleh pengetahuan yang benar. Kaum rasionalis mengembangkan paham yang disebut rasionalisme. Dalam menyusun pengetahuan, kaum rasionalis menggunakan :
Penalaran Deduktif
Penalaran deduktif adalah cara berpikir yang bertolak belakang dari pernyataan yang bersifat umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif ini menggunakan pola berpikir yang disebut silogisme. Silogisme terdiri dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Kedua pernyataan itu disebut premis mayor dan premis minor. Kesimpulan dan konklusi diperoleh dengan penalaran deduktif dari kedua premis tersebut.
Contoh :
Semua benda bisa dipanaskan dalam keadaan kering dan berubah menjadi api …………(1)
Kayu adalah benda .. ……….(2)
Kayu bila dipanaskan dalam keadaan kering akan berubah menjadi api ………..(3)
1 Disebut premis mayor, yakni sesuatu yang berlaku umum
2 Disebut premis minor, yakni sesuatu yang berlaku khusus.
3 Kesimpulan.
Jadi, kesimpulan ditarik dari sesuatu yang umum kepada yang khusus, dengan perkataan lain, kesimpulan ini hanya benar jika kedua premis yang digunakan benar dan cara menarik kesimpulannya juga benar. Jika ada yang salah dari ketiga hal di atas, maka kesimpulan yang diambil juga tidak benar.
Penalaran Induktif
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan deduktif ternyata mempunyai kelemahan, maka muncullah pandangan lain berdasarkan pengalaman konkret yang disebut penganut empirisme. Pendapat mereka, gejala alam itu bersifat konkret dan dapat ditangkap dengan panca indera manusia.
Penganut empirisme menyusun pengertian dengan menggunakan penalaran induktif. Penalaran induktif adalah cara berpikir dengan menarik kesimpulan umum dari pengamatan atas gejala-gejala yang bersifat khusus. Dengan penalaran induktif, makin lama dapat disusun pernyataan yang lebih umum lagi dan makin bersifat fundamental.
Contoh :
a. Pengamatan atas logam besi, tembaga, aluminium dan sebagainya. Jika dipanasi ternyata bertambah panjang. Dari sini dapat disimpulkan secara umum, bahwa semua logam, jika dipanasi akan bertambah panjang.
b. Kucing bernafas, Kambing bernafas, Sapi, Kuda dan Harimau juga bernafas. Dapat disimpulkan secara umum bahwa semua hewan dapat bernafas.
c. Hewan dapat bernafas, manusia dapat bernafas. Jadi dapat disimpulkan, bahwa semua makhluk hidup dapat bernafas.
Dengan cara induktif, dapat diperoleh prinsip-prinsip yang bersifat umum sehingga memudahkan dalam hal memahami gejala yang beraneka ragam. Namun demikian, ternyata pengetahuan yang dikumpulkan berdasarkan penalaran induktif ini masih belum tentu bersifat kontradiktif. Demikian pula fakta yang berkaitan belum dapat menjamin tersusunnya pengetahuan yang sistematis.
2.3 Pengetahuan Sebagai Pangkal Kelahiran IPA
Himpunan pengetahuan di atas dapat disebut ilmu pengetahuan, jika digunakan perpaduan antara rasionalisme dan empiris yang dikenal sebagai metode keilmuan atau pendekatan ilmiah. Memang benar, bahwa IPA merupakan suatu ilmu yang teoretis. Teori tersebut didasarkan atas pengamatan percobaan-percobaan terhadap gejala-gejala alam.
Fakta-fakta tentang gejala-gejala kebenaran alam diselidiki dan diuji berulang-ulang melalui percobaan-percobaan (eksperimen). Kemudian berdasarkan hasil eksperimen itulah dirumuskan keterangan ilmiahnya (teori). Teori ini pun masih harus diuji kemantapan/kesaktiannya. Artinya, bilamana diadakan penelitian ulang, yang dilakukan oleh siapa pun, dengan langkah-langkah yang serupa dan kondisi yang sama, maka akan diperoleh hasil yang konsisten.
Metode keilmuan itu bersifat objektif, bebas dari keyakinan, perasaan dan prasangka pribadi serta bersifat konsisten. Artinya, dapat diuji oleh siapa pun dan dengan demikian kesimpulan yang diperoleh lebih dapat diandalkan dan hasilnya lebih mendekati kebenaran.
Secara lengkap dapat dikatakan, bahwa suatu himpunan pengetahuan dapat disebut IPA, bilamana memenuhi persyaratan sebagai berikut, objeknya adalah pengalaman manusia, berupa gejala-gejala alam. Kemudian dikumpulkan melalui metode keilmuan serta mempunyai manfaat untuk kesejahteraan manusia.
Timbulnya Ilmu Pengetahuan Alam
Berkat makin sempurnanya alat pengamat bintang, berupa teleskop dan juga makin meningkatnya kemampuan berpikir manusia, maka pada tahun 1500-1600, terjadi perubahan besar atas semua ajaran Aristoteles maupun Ptolomeus. Sebagai tonggak sejarah dapat dicatat disini adalah Nicoulas Copernicus. (1473-1543).
Ia tidak saja seorang astronom, tetapi juga ahli matematika dan pengobatan. Tulisannya yang terkenal, merombak pandangan astronom zaman Yunani Kuno berjudul De Revolutionibus Orbium Caelestium yang berarti peredaran alam semesta. Buku ini ditulis pada tahun 1507, namun tidak segera diumumkan, karena prinsip heliosentris (berpusat pada matahari) bertentang dengan kepercayaan penguasa pada saat itu.
Pokok ajarannya antara lain :
1) Matahari adalah pusat dari system solar. Di dalam system itu, bumi adalah salah satu dari planet-planet lain yang beredar mengelilingi matahari.
2) Bulan beredar mengelilingi bumi dan bersama bumi mengelilingi matahari.
3) Bumi berputar pada porosnya dari Barat ke Timur yang mengakibatkan adanya siang dan malam serta pandangan tentang gerakan bintang-bintang.
Dengan rasionalisme dan empiris yang dikembangkan, ilmu pengetahuan maju dengan pesat, sehingga dikatakan sebagai revolusi ilmu pengetahuan (scientific revolution). Ilmu dipikirkan untuk kesejahteraan manusia (antologi) dan lahirnya ilmu terapan (applied science) memungkinkan terjadinya revolusi teknologi (technological revolution).
Terjadinya revolusi industri (industrial revolution) ialah sebagai jawaban manusia untuk memenuhi kebutuhan akan hasil industri setelah kebutuhan pangan tercapai. Dengan berkembangnya jumlah penduduk, soal pangan kembali menjadi masalah serius. Bioteknologi dikembangkan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sedangkan elektronika saat itu juga maju pesat.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Setelah menyusun makalah ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.
IPA adalah suatu pengetahuan teoretis yang diperoleh / disusun dengan cara khas, yakni dengan melakukan observasi eksperimen.
Teknologi IPA ini dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu :
a. Teknologi maju yakni teknologi tingkat pertama suatu usaha yang mengarah pada bidang pendidikan, latihan serta pembinaan para peneliti ilmiah untuk selalu mengikuti dan menguasai perkembangan teknologi yang vital serta dibutuhkan oleh suatu negara.
b. Teknologi Adaptif (teknologi madya), yakni perkembangan dari suatu teknologi maju yang penggunannya mesti harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan negara yang memerlukan.
c. Teknologi Protekif, adalah teknologi yang digunakan untuk melindungi (konservasi, restorasi, dan regenerasi) segenap SDA yang ada.
3.2 Saran
Setelah menarik kesimpulan, oleh karenanya kami menyarankan kepada pembaca agar lebih memahami hal-hal yang berkaitan dengan IPA karena sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Teknologi IPA tidak saja bermanfaat dalam bidang pendidikan tetapi juga sangat berpengaruh dalam perkembangan teknologi suatu negara.
Langganan:
Postingan (Atom)
